Postingan

Rachman Sabur-Meretas Lingkungan yang Beradab

Gambar
PANAS . Itulah kata yang terucap dari Rachman Sabur tentang Kota Jambi, kala berbincang dengan Tribun di Taman Budaya Jambi, Kamis (20/6). Hawa di Tanah Pilih Pusako Betuah ini memang sangat jauh berbeda dengan tempat tinggalnya, Kota Bandung, Jawa Barat. RACHMAN SABUR |TRIBUNJBI/ALDINO| Cuaca terik yang menyelimuti Kota Jambi diyakininya tak terlepas dari kerusakan lingkungan di Provinsi Jambi dan daerah-daerah sekitarnya. Utamanya faktor kerusakan hutan. Memang, hutan di Jambi banyak yang dialihfungsikan menjadi areal perkebunan dan pertambangan. Pengrusakan hutan yang terjadi belasan hingga puluhan tahun lalu, kini terasa jelas dampaknya, yang membuat warga Kota Jambi mengeluh kepanasan setiap hari. Bila yang sudah tinggal di Jambi saja merasakan panas, tentu yang datang dari daerah sejuk akan merasa lebih panas lagi. "Pengaruh kerusakan lingkungan seperti itu. Pengrusakan yang dilakukan sekarang, dampaknya tidak langsung dirasakan saat ini juga, tapi beberapa tahun k...

Pilwako Jambi - Mereka Bukan Dewa

Gambar
Pemilihan Kepala Daerah Kota Jambi tinggal sesaat lagi. Empat pasangan calon bertarung. Semua menyebut diri yang paling tepat memimpin kota kecil ini. Benarkah mereka yang tepat? Kiri ke kanan: Bambang, Sum Indra, Efendi Hatta, Fasha Nama Bambang Priyanto kembali maju sebagai calon wali kota. Nama ini sudah menjabat selama lima tahun sebagai wali kota. Selama memimpin ini pula tidak terlihat kemajuan yang signifikan di Kota Jambi. Malah telah merusak usaha kecil menengah dengan membebaskan dua raksasa ritel masuk Kota Jambi, Alfamart dan Indomart. Ini jadi titik awal matinya sejumlah warung yang berdekatan dengan lokasi yang diizinkan. Soal infrastruktur? Tidak ada kemajuan. Nama kedua adalah Sum Indra. Lima tahun ini dia menjadi pendamping Bambang Priyanto. Selama menjadi pendamping bambang, tidak terlihat juga terobosannya. Mengingat Bambang satu paket dengan Sum, maka keberhasilan dan kegagalan Bambang juga menjadi milik Sum. So? Berarti pria ini juga telah turut berpartisi...

Yussak, Antropolog yang Memilih Hidup Bercawat

Gambar
Bagi Yusak A Hutapea, Sarjana Antropologi UGM, kebahagiaanya berada di belantara Jambi, bergaul dengan orang rimba. Demi itu, kehidupan mapan ibukota ditinggalkan. Art performance mengenang Yussak. |suang sitanggang| Dia lebih memilih belajar memakai cawat, dan berakrab dengan orang rimba hingga malaria merenggut sebagian cita-citanya Meninggalkan kehidupan dalam keluarga yang sudah mapan. Itulah yang dilakukan Yusak Adrian Hutapea, pria batak kelahiran Palembang yang tumbuh besar di Jakarta. Yusak mengejar mimpi barunya memberikan kehidupan yang lebih manusiawi untuk orang rimba. Dia tinggalkan orang tua, kakak, adik, dan pacar yang sangat dicintai. Bukan hal mudah. Terlebih meninggalkan mereka hanya demi berkelana di belantara hutan Jambi, demi menemui orang rimba, suku marginal di Provinsi Jambi. Namun keputusan itulah yang sudah diambil Yusak Adrian Hutapea, 15 tahun silam. Dia minta izin kepada orangtuanya untuk bekerja di Jambi. Orangtuanya tidak diberitahu bila Yu...

MIMPI SI ANAK RIMBA BUKIT DUA BELAS

Gambar
“Akeh ndok kemono semampu akeh, Akeh ndok belajor, akeh ndok pengen pintar. Au, akeh harop induk bepake memperjuangkan, au rombong minta jugo memperjuangkan, pemerintah jugo harop memperjuangkan (Saya mau belajar kemanapun semampu saya. Saya ingin pintar. Saya harap ibu dan bapak turut mendukung, dan dari kelompok rimba juga mendukung. Terutama dukungan pemerintah sangat diharapkan),” ujar Besigar (15), salah satu anak rimba dari kelompok Kedundung Muda Taman Nasional Bukit Dua Belas. Besigar (kanan belakang) ketika berangkat pergi sekolah. Foto Heriyadi/Dok KKI Warsi Besigar menjalin satu per satu mimpi-mimpinya untuk mendapatkan pendidikan sama dengan anak lain seusianya. Diawali dengan  ikut baca tulis hitung di pedalaman TNBD bersama fasilitator pendidikan KKI Warsi, hingga beberapa tahun belakangan mulai mengenal sekolah formal dengan format kelas jauh.  Dua tahun tahun dengan metoda kelas jauh, Besigar dinyatakan berhak untuk ikut Ujian Nasional tingkat Sekolah Das...

SUARA GOLKAR SUARA SIAPA?

SAATNYA mempertanyakan slogan baru Partai Golkar. Partai berlambang pohon beringin ini mengusung slogan 'Suara Golkar Suara Rakyat.' Namun bagaimana sebenarnya faktanya? Pantas pakai bawa slogan itu? Menarik untuk melihat fakta pada sidang paripurna DPR RI dan membandingkannya dengan slogan Golkar, Senin (17/6/2013). Keputusan menerima atau menolak kenaikan BBM akhirnya diputuskan melalui jalan voting, model pemungutan suara yang sebenarnya bukan warisan leluhur bangsa ini. Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubdisi, berakhir untuk kemenangan kubu partai penyokong pemerintahan SBY-Boediono. Anggota parlemen yang berhimpun dengan koalisi sekretariat gabungan (setgab) koalisi mendukung pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan UU nomor 19 tahun 2012 tentang APBN tahun 2013, yang artinya mendukung kenaikan harga BBM. Ada 98 anggota DPR RI dari Fraksi Golkar yang ikut dalam paripurna. Ternyata semua mendukung agar dinaikkan harga BBM, sebagai implem...

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Gambar
Prosesi pernikahan Suku Anak Dalam Batin IX, mulai dari sirih pinang (lamaran) hingga acara adat sudah banyak yang diringkas. Namun di tengah tergerusnya budaya itu, masih prosesi adat istiadat yang masih bisa dinikmati, walaupun pun sudah jarang diadakan. Pihak calon mempelai laki-laki memberi sejumlah barang kepada orang tua perempuan sebagai tanda jadi besanan  WAJAH Datuk Patih Abun Yani terlihat datar saat berbincang dengan Tribun seusai prosesi sirih pinang di kediamannya, di Desa Kilangan, Kabupaten Batanghari, Sabtu (8/6). Ia sesekali harus menghentikan pembicaraan untuk menyalami tamu yang permisi pulang. Abun Yani merupakan Ketua SAD Batin IX, yang begitu teguh pendiriannya melestarikan adat yang diwariskan nenek moyang mereka. Begitu banyak tantangan yang dihadapinya untuk menghidupkan tradisi-tradisi yang sudah lama terendam dan sebagian tergerus. "Sekarang sudah banyak yang tidak peduli lagi dengan keberadaan adat istiadat ini," katanya. Namun ia mengu...

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 1)

Gambar
Arus modernisasi yang cukup deras telah menggerus budaya lokal. Tak terkecuali budaya Suku Anak Dalam (SAD) Batin IX yang sangat unik dan eksotis. Suku ini diperkirakan telah mendiami Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah sejak abad ke-10. Keluarga laki-laki mendatangi kediaman orang tua perempuan yang ingin dijadikan menantu. Foto: Suang Sitanggang SUKU yang namanya didasarkan pada penyebaran keturunannya pada sembilan anak sungai ini memiliki budaya yang cukup unik nan eksotis. Satu diantara keunikan itu terlihat dalam prosesi lamaran, yang dalam istilah suku batin IX disebut sirih pinang. Prosesi sirih pinang yang sudah sangat jarang dilakukan itu terlihat di kediaman Abun Yani, Sabtu (8/6). Belasan orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan datang ke kediamannya, yang berada di Desa Kilangan, Kecamatan Muara Bulian, Batanghari. Mereka menggunakan pakaian rapi. Seorang di antaranya menggunakan mangguto (penutup kepala yang ujungnya runcing), yang dikenakan pria yang usia...