Rachman Sabur-Meretas Lingkungan yang Beradab
PANAS. Itulah kata yang terucap dari Rachman Sabur tentang Kota Jambi, kala berbincang dengan Tribun di Taman Budaya Jambi, Kamis (20/6). Hawa di Tanah Pilih Pusako Betuah ini memang sangat jauh berbeda dengan tempat tinggalnya, Kota Bandung, Jawa Barat.
Cuaca terik yang menyelimuti Kota Jambi diyakininya tak terlepas dari kerusakan lingkungan di Provinsi Jambi dan daerah-daerah sekitarnya. Utamanya faktor kerusakan hutan. Memang, hutan di Jambi banyak yang dialihfungsikan menjadi areal perkebunan dan pertambangan.
Pengrusakan hutan yang terjadi belasan hingga puluhan tahun lalu, kini terasa jelas dampaknya, yang membuat warga Kota Jambi mengeluh kepanasan setiap hari. Bila yang sudah tinggal di Jambi saja merasakan panas, tentu yang datang dari daerah sejuk akan merasa lebih panas lagi.
"Pengaruh kerusakan lingkungan seperti itu. Pengrusakan yang dilakukan sekarang, dampaknya tidak langsung dirasakan saat ini juga, tapi beberapa tahun ke depan, bisa jadi puluhan tahun lagi," ucap penggiat teater yang sudah malang melintang di dalam dan luar negeri itu.
Bila dampak kerusakan hutan sudah dirasakan masyarakat Jambi saat ini, ancaman lingkungan hidup lainnya yang juga sudah mengancam ialah sampah plastik. Setiap hari manusia memakai plastik kemudian membuangnya. Padahal, plastik merupakan barang yang tidak mudah terurai.
Kehadiran Rachman Sabur hadir di Kota Jambi berhubungan dengan plastik. Namun dia bukan mau gembar-gembor tentang ancaman plastik untuk lingkungan hidup. Dia dan rombongannya yang tergabung dalam Teater Payung Hitam akan mengungkapkannya lewat seni pertunjukan.
"Kami penggiat seni teater, maka kami mengungkapkannya lewat seni," ucap pria yang pernah menunjukkan karya mulai dari Australia hingga Eropa itu. Ia menyebut persoalan plastik jadi tema yang diangkat karena dirasa persoalan ini sesuatu yang harus cepat direspon semua pihak.
Ia menilai persoalan bahaya dan dampak plastik masih sangat jarang diangkat ke permukaan. Padahal, kata dia, persoalan ini sama pentingnya dengan isu-isu lingkungan yang lain seperti pengrusakan. "Pemerintah pun sampai saat ini belum punya komitmen soal plastik," ujarnya.
Seniman kelahiran 1957, yang sampai kini masih aktif mengajar di STSI Bandung ini menyebut sudah seharusnya pemerintah membuat upaya-upaya mengurangi penggunaan plastik. Selain itu, sudah tidak sepantasnya lagi mendatangkan barang-barang berbau plastik dari luar negeri.
Itulah yang melatarbelakangi Sabur mengangkat judul 'Segera' pada teater yang dipentaskan di Taman Budaya Jambi, Jumat (21/6) malam. Dia mengatakan tidak ada kata lain selain harus segera berbuat untuk mengatasi dampak banyaknya plastik yang bertebaran setiap harinya.
"Segera melakukan sesuatu, sebelum sesuatu itu menjadi ancaman dan bahaya. Segera ambil tindakan, sebelum tindakan lain mencelakakan dirimu atau siapa pun," ucapnya. Bila masih saja berdiam diri, ucapnya, maka generasi yang akan datang akan menerima musibahnya.
Pementasan 'Segera' yang merupakan garapan Rachman Sabur dengan seniman dari Perancis, Cacille Boitel ini, menghadirkan hal-hal yang menarik, dan mengingatkan penontonnya atas hal-hal yang mungkin akan terjadi sepuluh tahun kedepan. (suang sitanggang)
![]() |
| RACHMAN SABUR |TRIBUNJBI/ALDINO| |
Cuaca terik yang menyelimuti Kota Jambi diyakininya tak terlepas dari kerusakan lingkungan di Provinsi Jambi dan daerah-daerah sekitarnya. Utamanya faktor kerusakan hutan. Memang, hutan di Jambi banyak yang dialihfungsikan menjadi areal perkebunan dan pertambangan.
Pengrusakan hutan yang terjadi belasan hingga puluhan tahun lalu, kini terasa jelas dampaknya, yang membuat warga Kota Jambi mengeluh kepanasan setiap hari. Bila yang sudah tinggal di Jambi saja merasakan panas, tentu yang datang dari daerah sejuk akan merasa lebih panas lagi.
"Pengaruh kerusakan lingkungan seperti itu. Pengrusakan yang dilakukan sekarang, dampaknya tidak langsung dirasakan saat ini juga, tapi beberapa tahun ke depan, bisa jadi puluhan tahun lagi," ucap penggiat teater yang sudah malang melintang di dalam dan luar negeri itu.
Bila dampak kerusakan hutan sudah dirasakan masyarakat Jambi saat ini, ancaman lingkungan hidup lainnya yang juga sudah mengancam ialah sampah plastik. Setiap hari manusia memakai plastik kemudian membuangnya. Padahal, plastik merupakan barang yang tidak mudah terurai.
Kehadiran Rachman Sabur hadir di Kota Jambi berhubungan dengan plastik. Namun dia bukan mau gembar-gembor tentang ancaman plastik untuk lingkungan hidup. Dia dan rombongannya yang tergabung dalam Teater Payung Hitam akan mengungkapkannya lewat seni pertunjukan.
"Kami penggiat seni teater, maka kami mengungkapkannya lewat seni," ucap pria yang pernah menunjukkan karya mulai dari Australia hingga Eropa itu. Ia menyebut persoalan plastik jadi tema yang diangkat karena dirasa persoalan ini sesuatu yang harus cepat direspon semua pihak.
Ia menilai persoalan bahaya dan dampak plastik masih sangat jarang diangkat ke permukaan. Padahal, kata dia, persoalan ini sama pentingnya dengan isu-isu lingkungan yang lain seperti pengrusakan. "Pemerintah pun sampai saat ini belum punya komitmen soal plastik," ujarnya.
Seniman kelahiran 1957, yang sampai kini masih aktif mengajar di STSI Bandung ini menyebut sudah seharusnya pemerintah membuat upaya-upaya mengurangi penggunaan plastik. Selain itu, sudah tidak sepantasnya lagi mendatangkan barang-barang berbau plastik dari luar negeri.
Itulah yang melatarbelakangi Sabur mengangkat judul 'Segera' pada teater yang dipentaskan di Taman Budaya Jambi, Jumat (21/6) malam. Dia mengatakan tidak ada kata lain selain harus segera berbuat untuk mengatasi dampak banyaknya plastik yang bertebaran setiap harinya.
"Segera melakukan sesuatu, sebelum sesuatu itu menjadi ancaman dan bahaya. Segera ambil tindakan, sebelum tindakan lain mencelakakan dirimu atau siapa pun," ucapnya. Bila masih saja berdiam diri, ucapnya, maka generasi yang akan datang akan menerima musibahnya.
Pementasan 'Segera' yang merupakan garapan Rachman Sabur dengan seniman dari Perancis, Cacille Boitel ini, menghadirkan hal-hal yang menarik, dan mengingatkan penontonnya atas hal-hal yang mungkin akan terjadi sepuluh tahun kedepan. (suang sitanggang)

Komentar
Posting Komentar