Postingan

Menampilkan postingan dengan label Lingkungan

Jangan Sampai Jasa Ekspedisi Kirim Narkoba

Gambar
Foto Ilustrasi (sumber: internet) Enam ekor anak buaya senyulong, atau dikenal juga dengan sebutan julong-julong, yang hendak dikirimkan secara ilegal ke Manado, berhasil digagalkan. Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Jambi menggagalkan pengiriman itu saat melihat ada keanehan di dalam kargo. Buaya itu dikirim menggunakan sebuah jasa perusahaan ekspedisi pengiriman paket dan logistik. Pengirim mencoba mengelabui dengan menyebut paket berisi enam ekor buaya berukuran kecil tersebut berupa snack. Hanya tertera nomor ponsel pengirim di sana, tak ada alamatnya. Sayangnya, nomor ponsel itu ternyata tidak aktif. Pengungkapan upaya penyelundupan hewan langka dan dilindungi ini menjadi pertanda betapa proteksi atas barang kiriman selama ini masih rendah. Perusahaan ekspedisi belum benar-benar memproteksi paket yang hendak diantar, apakah masuk pada kategori yang legal atau ilegal. Pengirim cukup menyebut isi paket, langsung diterima agen perus...

Satwa Langka, Jangan Sampai Tinggal Kenangan

Gambar
FOTO: REUTERS NOVEMBER 2016 ini Jambi dihebohkan perburuan dan perdagangan satwa liar yang dilindungi. Di Muara Bulian digerebek gudang berisi daging dan kulit trenggiling yang nilainya berkisar Rp 5 miliar, lalu di Kota Jambi diamankan puluhan ekor trenggiling yang hendak diperdagangkan. Kini, kisahnya bergeser ke Sarolangun, yakni ditemukan gajah tewas di areal perkebunan. Warga menemukan bangkai gajah yang sudah tidak utuh lagi di Dusun Sipintun, Sarolangun. Tidak ada lagi gadingnya. Menyeruak dugaan gajah tersebut tewas akibat dibunuh. Selama ini memang gajah banyak yang mati akibat dibunuh, dan gadingnya diambil pembunuhnya untuk dijual dengan harga yang tinggi. Mahalnya gading gajah membuat nyawa gajah jadi terancam. Menurut data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, saat ini, populasi gajah sumatera di Jambi diperkirakan tinggal sekitar 150 ekor saja. Pada berbagai diskusi dan ekspos terungkap populasi gajah dan satwa dilindungi lainnya tergerus tiap tahu...

Tambang Ilegal, Eksploitasi Warga Miskin

Gambar
KABAR duka kembali menyapa kita. Sabtu (21/3) sore, dua orang pekerja penambangan emas tanpa izin, atau yang lazim disebut PETI, tewas setelah tertimbun longsor saat menambang emas di Desa Kampung Limo, Kecamatan Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin. Selain korban meninggal, ada dua lagi korban luka dan patah tulang. foto: ilustrasi Informasinya, pekerja PETI yang bernasib nahas itu terdiri dari tiga perempuan dan satu laki-laki. Mereka menggunakan dua set dompeng darat untuk menambang. Ketika mengoperasikan dompeng di dalam lobang tambang, tiba-tiba tanah longsor. Longsoran tanah itu kemudian menimbun keempat pekerja. Inilah tragedi yang terulang kembali, entah sudah yang keberapa kali terjadi dalam dunia pertambangan emas ilegal di Provinsi Jambi. Lagi-lagi korbannya adalah pekerja. Sudah menjadi rahasia umum, mereka yang berada di areal tambang adalah orang-orang suruhan, yang digaji sejumlah orang kaya yang jadi pemodalnya.   Dalam dunia PETI di Jambi, ...

Geopark Merangin, Harta Karun Indonesia

Gambar
SECARA harfiah Geopark berarti taman bumi yang mengacu pada situs warisan geologis (geological heritages) dan terintegrasi dengan warisan budaya (cultural heritages) di wilayah itu sendiri yang bertujuan sebagai bagian konservasi, edukasi dan pembangunan dengan sistem berkesinambungan. Tepian Sungai Merangin. (foto:net) Geopark atau biasa disebut kawasan taman bumi adalah salah satu situs yang banyak memiliki peninggalan kuno dari kehidupan masa lalu.  satu kabupaten di Provinsi Jambi memiliki kekayaan geologis geopark, yakni Kabupaten Merangin, persisnya terletak di Desa Air Batu Kecamatan Renah Pembarap. Penemuan geopark ini dimulai dari ketidak sengajaan masyarakat setempat yang menemukan fosil purba yang berukuran 2,5 meter tepat berada di pinggir sungai tempat mereka melakukan aktifitas olah raga arung jeram. Pada penemuan fosil kayu itu, para ahli memperkirakan zaman dahulu gunung berapi meletus 5 kali dalam rentang waktu 20 juta tahun. Akibat letusan itu debu vulkani...

Sesaknya Hidup di Pulau Terpadat

Gambar
PULAU Bungin di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, punya julukan sebagai pulau terdapat di dunia. Di pulau ini nyaris tidak ada lahan kosong, seluruh daratannya dipenuhi rumah-rumah penduduk. Kepadatan Pulau Bungin diliat dari atas. (ARSIP KOMPAS TV) Kepadatan penduduk pula membuat Pulau Bungin tidak memiliki garis pantai, karena sepanjang pesisir pulaunya seluruhnya dibangun menjadi tempat tinggal. Pulau ini memiliki luas 8,5 hektar dengan jumlah penduduk 3.400 jiwa. Warga yang hendak membangun rumah baru, harus mereklamasi pulau dengan menguruk lautan dengan karang. Akibat bertambahnya rumah, ukuran Pulau Bungin pun semakin bertambah luas dari waktu ke waktu. Akibat lahan yang terbatas, ada beberapa keluarga yang terpaksa harus hidup dalam satu atap. Di rumah keluarga Bapak Mabsu, tinggal 12 orang dari 4 keluarga. Lokasi pulau ini sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa. Di Bungin, host Explore Indonesia,...

Besalih, Pengharapan Terakhir Suku Bathin IX

Gambar
FOTO: KOMPAS/IRMA TAMBUNAN RITUAL besalih dilaksanakan secara turun-temurun oleh komunitas terasing suku Bathin IX di Kabupaten Batanghari, Jambi. Namun, tradisi yang bertujuan memohon kesembuhan kepada Sang Pencipta ini semakin langka. Suasana pelaksanaan ritual besalih di Desa Singkawang, Kecamatan Muara Bulian, Batanghari, Rabu (16/2). Dua pria berjalan terseret memegang burung ondan. Mereka kemudian berhadapan dan menggerakkan tangan begitu cepat ke arah lawan. Salah satu pria tiba-tiba terjatuh kaku. Si burung ondan lepas dari tangannya. Suasana mencekam dalam iringan mantra dan tabuh rebana sepanjang malam, pertengahan Februari lalu. Sejumlah warga dengan cepat mendekap Sultani (50), pria yang terjatuh kaku. Sebuah mangkuk berasap kemenyan didekatkan kepadanya. Sultani akhirnya terjaga dan langsung mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. Ia terlihat sangat letih. Sepanjang malam, Sultani pingsan hingga lima kali dalam ritual besalih yang digelar masyarakat suku terasing B...

Membeli Mimpi Orang Rimba Jambi

Gambar
Memiliki rumah mewah yang dihiasi berbagai perabotan bernilai seni tinggi menjadi impian sebagian besar masyarakat. Tak sedikit juga yang memiliki impian untuk plesiran ke luar negeri, untuk menikmati suasana yang biasa dirasakan para pejabat negara ketika pergi plesiran dengan alasan kunjungan kerja. Namun Bagi orang rimba, mimpi-mimpi seperti itu tidak terbayang dibenaknya. saya bersama orang rimba dari kelompok Tumenggung Marituha (Dok Pribadi) ORANG rimba, atau yang oleh pemerintah lebih senang menyebutnya suku anak dalam (SAD), tidak pernah memimpikan yang sifatnya bermewah-mewah dan kehidupan foya-foya. Tidak ada mimpi untuk tinggal di rumah gedung, dan tak ada hasrat untuk memandangi indahnya ombak di Bali dan Hawai. Bagi mereka, tidur di bawah lebatnya daun pepohonan di dalam hutan belantara, adalah kenikmatan yang luar biasa. Itulah mimpi mereka, senantiasa bisa hidup tenang di dalam hutan, dan mewariskannya kepada anak cucunya. Hutan yang terjaga, membuat mereka tak k...

Inspirasi dari Rimba: Demi Sebuah Pengabdian

NAMANYA Yusak Adrian Hutapea. Dia Sudah hampir 20 tahun menghadap Sang Khalik. Pria berdasah Batak yang lahir di Palembang ini tumbuh besar di Jakarta. Ia menamatkan sarjana Antropologi dari Universitas Gajah Mada. Yusak berasal dari keluarga mapan. Walau begitu, ia memilih meninggalkan kehidupan yang mewah di Jakarta. Tak lama setelah menamatkan sarjana, Yusak memilih menjelajahi rimbunnya hutan di Provinsi Jambi. Dia bersama teman-temannya di sebuah lembaga nirlaba, ingin mengabdikan dirinya mencerdaskan sebuah suku terasing yang hidup nomaden di pedalaman Provinsi Jambi. Orang Rimba, demikian nama suku yang ingin dimajukan Yusak dan teman-temannya. Siang malam mereka menjelajahi rimbunnya hutan untuk menemukan dan bisa berbaur dengan suku ini. Tidak mudah meyakinkan suku yang hidup secara berkelompok itu agar menerima niat baik mereka. Penolakan demi penolakan mereka rasakan saat berusaha mendekati seorang Tumenggung, ketua dalam sebuah kelompok. Kehadiran mereka malah diangg...

Si Anak Rimba yang Ingin Cerdaskan Kaumnya

Gambar
ORANG rimba selayaknya bangga, terutama bagi yang sudah merasakan betapa pentingnya ilmu pengetahuan. BESUDUT/DOC WARSI Sebab, seorang anak dari komunitas yang tinggal di pedalaman hutan Jambi, telah berhasil lulus SMA. Anak bernama Besudut, kini siap menjajal dunia perguruan tinggi. Besudut adalah nama yang disematkan orang tuanya yang tinggal di Taman Nasional Bukit Dua Belas. Namun, di dunia pendidikan, namanya menjadi Irman Jalil. Memang agak aneh satu orang memiliki dua nama, dan kedua nama itu pun sah. Ia lebih suka bila dipanggil dengan nama Besudut. Nama Irman Jalil disematkan oleh orang tua angkatnya, seorang warga Trans Tanah Garo, waktu ia menumpang tinggal di Tanah Garo agar bisa masuk sekolah formal. "Sebenarnya bapak kasih nama Herman Jalil. Tidak tahu mengapa tertulis jadi Irman Jalil," kata Besudut kepada Tribun Jambi (Tribun Network) beberapa waktu lalu. Ia tidak memermasalahkan adanya kesalahan dalam penulisan nama. Baginya, yang terpenting ...

Yussak, Antropolog yang Memilih Hidup Bercawat

Gambar
Bagi Yusak A Hutapea, Sarjana Antropologi UGM, kebahagiaanya berada di belantara Jambi, bergaul dengan orang rimba. Demi itu, kehidupan mapan ibukota ditinggalkan. Art performance mengenang Yussak. |suang sitanggang| Dia lebih memilih belajar memakai cawat, dan berakrab dengan orang rimba hingga malaria merenggut sebagian cita-citanya Meninggalkan kehidupan dalam keluarga yang sudah mapan. Itulah yang dilakukan Yusak Adrian Hutapea, pria batak kelahiran Palembang yang tumbuh besar di Jakarta. Yusak mengejar mimpi barunya memberikan kehidupan yang lebih manusiawi untuk orang rimba. Dia tinggalkan orang tua, kakak, adik, dan pacar yang sangat dicintai. Bukan hal mudah. Terlebih meninggalkan mereka hanya demi berkelana di belantara hutan Jambi, demi menemui orang rimba, suku marginal di Provinsi Jambi. Namun keputusan itulah yang sudah diambil Yusak Adrian Hutapea, 15 tahun silam. Dia minta izin kepada orangtuanya untuk bekerja di Jambi. Orangtuanya tidak diberitahu bila Yu...