SUARA GOLKAR SUARA SIAPA?

SAATNYA mempertanyakan slogan baru Partai Golkar. Partai berlambang pohon beringin ini mengusung slogan 'Suara Golkar Suara Rakyat.' Namun bagaimana sebenarnya faktanya? Pantas pakai bawa slogan itu?

Menarik untuk melihat fakta pada sidang paripurna DPR RI dan membandingkannya dengan slogan Golkar, Senin (17/6/2013). Keputusan menerima atau menolak kenaikan BBM akhirnya diputuskan melalui jalan voting, model pemungutan suara yang sebenarnya bukan warisan leluhur bangsa ini.

Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubdisi, berakhir untuk kemenangan kubu partai penyokong pemerintahan SBY-Boediono. Anggota parlemen yang berhimpun dengan koalisi sekretariat gabungan (setgab) koalisi mendukung pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan UU nomor 19 tahun 2012 tentang APBN tahun 2013, yang artinya mendukung kenaikan harga BBM.

Ada 98 anggota DPR RI dari Fraksi Golkar yang ikut dalam paripurna. Ternyata semua mendukung agar dinaikkan harga BBM, sebagai implementasi dari keputusan menerima perubahan APBN 2013.

Padahal, sudah jelas-jelas menaikkan harga BBM merupakan kebijakan yang akan berdampak besar bagi kehidupan masyarakat, terutama masyarakat miskin, terlebih yang pendapatannya dibawah Rp 20 ribu per kapita per hari. Di Indonesia, masyarakat yang kelas pendapatan ini sangat fantastis, hampir 50 persen.

Penolakan kenaikan harga BBM ini sudah nyata-nyata disuarakan oleh elemen masyarakat yang menjadi representase masyarakat miskin, yakni buruh serta mahasiswa. Bahkan aksi penolakan di hampir semua daerah itu banyak yang berujung bentrok. Perjuangannya satu, jangan sampai BBM naik.

Nah, dimana Partai Golkar yang katanya akan menyarakan suara rakyat? Apakah menyetujui kenaikan harga BBM ini yang dinamakan suara rakyat? Rakyat mana? Suara Golkar suara siapa?

Tidak konsisten antara slogan perjuangan dengan yang diperjuangkan, mungkin itulah kata yang tepat bagi partai ini. Memang sudah menjadi hak politik partai untuk membuat kebijakan di parlemen, namun tentu ada yang namanya slogan perjuangan yang harusnya dipegang teguh.

Sulit membayangkan bagaimana besok masyarakat akan semakin sulit menghidupi dirinya. BBM naik sudah tentu berdampak pada kenaikan harga bahan pangan dan perlengkapan hidup. Namun di sisi lain, justru gaji dan pendapatan masyarakat masih belum juga naik. Si miskin akan semakin kesusahan, bukan?

Jambi, 17 Juni 2013







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik