Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Prosesi pernikahan Suku Anak Dalam Batin IX, mulai dari sirih pinang (lamaran) hingga acara adat sudah banyak yang diringkas. Namun di tengah tergerusnya budaya itu, masih prosesi adat istiadat yang masih bisa dinikmati, walaupun pun sudah jarang diadakan.
Pihak calon mempelai laki-laki memberi sejumlah barang
kepada orang tua perempuan sebagai tanda jadi besanan 

WAJAH Datuk Patih Abun Yani terlihat datar saat berbincang dengan Tribun seusai prosesi sirih pinang di kediamannya, di Desa Kilangan, Kabupaten Batanghari, Sabtu (8/6). Ia sesekali harus menghentikan pembicaraan untuk menyalami tamu yang permisi pulang.

Abun Yani merupakan Ketua SAD Batin IX, yang begitu teguh pendiriannya melestarikan adat yang diwariskan nenek moyang mereka. Begitu banyak tantangan yang dihadapinya untuk menghidupkan tradisi-tradisi yang sudah lama terendam dan sebagian tergerus.

"Sekarang sudah banyak yang tidak peduli lagi dengan keberadaan adat istiadat ini," katanya. Namun ia mengungkapkan sudah bertekad menghidupkan kebudayaan Batin IX dan melestarikannya. Prosesi sirih pinang yang baru saja dilalui jadi bukti keteguhannya.

Dua tahun lalu, upaya menghidupkan tradisi yang terendam itu telah dilakukannya. Saat itu juga dalam acara pernikahan putrinya. Sekalipun menantunya bukan dari keturunan SAD Batin IX, tapi ia ingin tetap melangsungkannya secara adat SAD Batin IX.

"Putri saya yang sudah dilamar ini pun, pernikahannya nanti akan dilangsungkan secara adat kami (Batin IX)," ungkapnya. Prosesi yang membutuhkan waktu banyak dan terkesan ribet itu dilakukannya agar anak dan menantu paham dan turut melestarikan budaya itu.

Ia mengungkapkan, satu di antara ritual yang akan dilaksanakan pada pernikahan nanti adalah ritual mengayun pengantin. Ayunannya cukup sederhana, sepotong kayu persegi diikatkan pada seutas tali. Pengantin duduk diatas kayu dan berupaya agar tak jatuh.

Ayunan yang hanya terikat pada seutas tali bukan tanpa makna. Itu dimaksudkan supaya pengantin pria dan perempuan bisa sama-sama menjaga keseimbangan, agar mereka tidak terjungkal dari ayunan itu. Pengantin diajarkan arti keseimbangan dalam kehidupan.

Abun menyebut ayunan itu juga sebagai simbol dari timbangan. Lewat ritual tersebut, pengantin diingatkan supaya dalam mengaruhi bahtera rumah tangga, membuat keputusan yang adil dan bijaksana, sehingga kehidupan keluarganya bahagia selama-lamanya.

"Ritual seperti itu sudah sangat jarang dilaksanakan, apalagi diatas tahun 1980. Tapi sekarang kami berusaha menghidupkannya ditengah keterbatasan yang kami miliki," ujar pria berkulit sawo matang itu. Ia menyebut adat harus diabadikan sepanjang masa.

Persoalan besar yang dihadapi ialah kurangnya minat dari keturunan Batin IX menjaga dan melestarikan budaya itu. Mungkin ritual dalam perayaan adat itu dianggap menyibukkan dan memakan waktu, sehingga meninggalkan tradisi yang dianggap sudah ketinggalan zaman.

"Bukan hanya ritual-ritual itu saja yang semakin sulit ditemukan, tapi juga identitas kami saat bertutur dalam bahasa adat," terangnya. Identitas yang ia maksud adalah seloko dan pantun khas SAD Batin IX, yang cukup halus menyiratkan makna sebenarnya.

Seperti saat prosesi sirih pinang, semua komunikasi yang dilakukan menggunakan seloko dan pantun. Dari balasan pantun bisa diketahui apa maksud kedatangan tamu, dan juga apa tanggapan dari orang tua perempuan. Semua disampaikan dalam makna yang tersirat.

"Sekarang yang bisa seloko dan pantun itu tinggal sedikit. Jumlahnya tidak sampai jari satu tangan," ujarnya. Itu pula yang menjadi kekhawatirannya atas nasib seloko dan pantun itu. Semua prosesi adat, komunikasinya selalu memakai pantun dan seloko. (suang sitanggang)

sumber: Tribun Jambi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik