Yussak, Antropolog yang Memilih Hidup Bercawat

Bagi Yusak A Hutapea, Sarjana Antropologi UGM, kebahagiaanya berada di belantara Jambi, bergaul dengan orang rimba. Demi itu, kehidupan mapan ibukota ditinggalkan.

Art performance mengenang Yussak. |suang sitanggang|

Dia lebih memilih belajar memakai cawat, dan berakrab dengan orang rimba hingga malaria merenggut sebagian cita-citanya

Meninggalkan kehidupan dalam keluarga yang sudah mapan. Itulah yang dilakukan Yusak Adrian Hutapea, pria batak kelahiran Palembang yang tumbuh besar di Jakarta.

Yusak mengejar mimpi barunya memberikan kehidupan yang lebih manusiawi untuk orang rimba.

Dia tinggalkan orang tua, kakak, adik, dan pacar yang sangat dicintai. Bukan hal mudah. Terlebih meninggalkan mereka hanya demi berkelana di belantara hutan Jambi, demi menemui orang rimba, suku marginal di Provinsi Jambi. Namun keputusan itulah yang sudah diambil Yusak Adrian Hutapea, 15 tahun silam.

Dia minta izin kepada orangtuanya untuk bekerja di Jambi. Orangtuanya tidak diberitahu bila Yusak ke Jambi untuk menjelajahi lebat dan ganasnya belantara Jambi. Rusni Simatupang, Ibunda Yusak, kepada Tribun mengatakan, saat akan ke Jambi, Yusak hanya mengatakan bekerja sebagai pengajar untuk orang rimba.

"Dia tidak bilang kalau dia itu mengajarnya masuk ke hutan," kisahnya tentang anaknya itu, Rabu (3/4). Ia dan suaminya baru mengetahui tentang lokasi kerja Yusak saat mengenang delapan tahun kepergian anaknya.

Saat itu, ucapnya, Warsi yang merupakan lembaga tempat Yusak bekerja, mengajaknya melakukan penjelajahan rute-rute yang pernah dijelahai Yusak.

Rusni terkaget-kaget melihat rute tersebut. "Saya sungguh tidak menyangka bila anak saya kerjanya seperti ini. Dia masuk ke dalam hutan yang jalannya susah dilalui. Becek dan berbukit-bukit," ujar dia saat ditemui usai acara in memorian of Yusak, di kantor Warsi.

Dalam perjalanan delapan tahun lalu itu, mereka berkesempatan melihat dari dekat kehidupan orang rimba. Dia jadi bisa membayangkan bagaimana anaknya bergaul dengan suku tersebut. Dia meneteskan air mata saat ditunjukkan pondok tempat Yusak mengajar.

"Pondok tempat Yusak pernah mengajar ditunjukkan kepada kami. Saya menangis terharu. Pondok itu sudah mulai roboh saat itu," kenangnya. Yusak merupakan pioner pendidikan untuk orang rimba.

Ia meninggal saat menjalankan tugasnya di bawah rimbunnya hutan. Saat itu, dia yang hendak mengajar, terserang malaria. Sehari kemudian dia menghembuskan nafas terakhirnya, 25 Maret 1999.

Yusak adalah yang pertama menjadi guru bagi orang rimba, mengajari mereka membaca dan menulis. Memberikan pelajaran bagi orang rimba bukan hal mudah, sebab orang rimba saat itu tidak mau menerima pelajaran. Berkali-kali Yusak mendapat penolakan.

Namun berkat usaha dan kerja kerasnya, ia akhirnya berhasil mendapat beberapa murid. Mereka diajari baca tulis menggunakan peralatan seadanya, mulai dari menulis di papan pakai arang, coretan di tanah, dan media lainnya yang tersedia di alam.

Dia mengajari bukan seperti guru di sekolah formal. Yusak kerap pindah tempat, dan mengikuti kemana pun orang rimba pergi. Anak rimba diajaknya belajar dan bermain. Tidak ada istilah memarahi murid yang susah menangkap pelajaran. Dia mengajari pakai hati. Ia juga mendapat palajaran dari orang rimba.

Lulusan Antropologi UGM itu diajari anak rimba menggunakan cawot, yakni sehelai kain yang diikatkan diantara paha hingga ke pinggang untuk menutupi alat kelamin. Akhirnya, Yusak menjadi pemakai cawot di sana. Yusak sebenarnya bukan dari keluarga sembarangan. Dia berasal dari keluarga yang tergolong mapan.

Ayahnya bekerja sebagai pegawai di Pertamina dan mempunyai jabatan di perusahaan milik negara itu. Ayahnya sudah pernah bepergian hingga ke Paris.

"Saya sebenarnya bingung mengapa dia memilih bekerja di hutan. Tapi Yusak pernah cerita bahwa dia mendapatkan kebahagiaan tersendiri saat mengajari orang rimba.

Dia bilang sangat senang bersahabat dengan orang rimba," cerita ibunya. Terlepas dari keputusan yang diambil Yusak, yang membuatnya meninggal pada usia muda, 30 tahun, Rusni mengaku bangga pada anak kelimanya itu.

"Dia sudah mengabdikan diri untuk negara ini. Saya sedih, tapi saya bangga atas perjuangannya," ungkapnya.

Rusni mengaku bangga melihat anak rimba saat ini sudah banyak yang bisa baca tulis dan berhitung, yang semuanya diawali dari perjuangan anaknya. "Kebahagiaan yang tidak terlukiskan. Apa yang diperjuangkan anak saya tidak sia-sia," ucapnya.

Ia berharap perjuangan yang sudah dirintis Yusak tidak berhenti. Orang rimba, kata dia, harus terus didampingi dan dilindungi supaya bisa mendapatkan haknya. "Kadang itu saya tidak habis pikir, mengapa pemerintah terkesan lepas tangan," ujarnya. (suang sitanggang)

sumber: www.tribunjambi.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik