Postingan

Menampilkan postingan dengan label suku anak dalam

Ketika Kofifah Memberi Rokok Kepada Orang Rimba

MENINGGALNYA belasan Orang Rimba (Suku Anak Dalam) di Provinsi Jambi menjadi perhatian pemerintah pusat. Tidak tanggung-tanggung, Menteri Sosial Kofifah Indar Parawasa datang ke Bumi Sepucuk Jambi sembilan Lurah karena berita yang heboh di media lokal dan nasional itu. Kedatangannya kali ini membuat saya secara pribadi melihat suatu hal yang positif. Kaum marginal seperti orang rimba, ternyata sudah mulai mendapat tempat di negara ini. Mereka bukan lagi dianggap 'sampah' yang musti dihilangkan atau dimusnahkan atau dilokalisir. Di mata pemerintah pusat, setidaknya di mata seorang pejabat sekelas Menteri Sosial, orang rimba sudah diangap sebagai warga negera,pemilik sah negeri ini.  Namun apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan saya. Kofifah yang saat datang menjumpai orang rimba kelompok Tumenggng Marituha membawa rokok dan memberikan rokok itu kepada orang rimba, mendapat kecaman dari berbagai pihak. Terutama YLKI. Kofifah dianggap telah mengajarkan sesuatu ya...

Besalih, Pengharapan Terakhir Suku Bathin IX

Gambar
FOTO: KOMPAS/IRMA TAMBUNAN RITUAL besalih dilaksanakan secara turun-temurun oleh komunitas terasing suku Bathin IX di Kabupaten Batanghari, Jambi. Namun, tradisi yang bertujuan memohon kesembuhan kepada Sang Pencipta ini semakin langka. Suasana pelaksanaan ritual besalih di Desa Singkawang, Kecamatan Muara Bulian, Batanghari, Rabu (16/2). Dua pria berjalan terseret memegang burung ondan. Mereka kemudian berhadapan dan menggerakkan tangan begitu cepat ke arah lawan. Salah satu pria tiba-tiba terjatuh kaku. Si burung ondan lepas dari tangannya. Suasana mencekam dalam iringan mantra dan tabuh rebana sepanjang malam, pertengahan Februari lalu. Sejumlah warga dengan cepat mendekap Sultani (50), pria yang terjatuh kaku. Sebuah mangkuk berasap kemenyan didekatkan kepadanya. Sultani akhirnya terjaga dan langsung mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. Ia terlihat sangat letih. Sepanjang malam, Sultani pingsan hingga lima kali dalam ritual besalih yang digelar masyarakat suku terasing B...

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Gambar
Prosesi pernikahan Suku Anak Dalam Batin IX, mulai dari sirih pinang (lamaran) hingga acara adat sudah banyak yang diringkas. Namun di tengah tergerusnya budaya itu, masih prosesi adat istiadat yang masih bisa dinikmati, walaupun pun sudah jarang diadakan. Pihak calon mempelai laki-laki memberi sejumlah barang kepada orang tua perempuan sebagai tanda jadi besanan  WAJAH Datuk Patih Abun Yani terlihat datar saat berbincang dengan Tribun seusai prosesi sirih pinang di kediamannya, di Desa Kilangan, Kabupaten Batanghari, Sabtu (8/6). Ia sesekali harus menghentikan pembicaraan untuk menyalami tamu yang permisi pulang. Abun Yani merupakan Ketua SAD Batin IX, yang begitu teguh pendiriannya melestarikan adat yang diwariskan nenek moyang mereka. Begitu banyak tantangan yang dihadapinya untuk menghidupkan tradisi-tradisi yang sudah lama terendam dan sebagian tergerus. "Sekarang sudah banyak yang tidak peduli lagi dengan keberadaan adat istiadat ini," katanya. Namun ia mengu...

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 1)

Gambar
Arus modernisasi yang cukup deras telah menggerus budaya lokal. Tak terkecuali budaya Suku Anak Dalam (SAD) Batin IX yang sangat unik dan eksotis. Suku ini diperkirakan telah mendiami Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah sejak abad ke-10. Keluarga laki-laki mendatangi kediaman orang tua perempuan yang ingin dijadikan menantu. Foto: Suang Sitanggang SUKU yang namanya didasarkan pada penyebaran keturunannya pada sembilan anak sungai ini memiliki budaya yang cukup unik nan eksotis. Satu diantara keunikan itu terlihat dalam prosesi lamaran, yang dalam istilah suku batin IX disebut sirih pinang. Prosesi sirih pinang yang sudah sangat jarang dilakukan itu terlihat di kediaman Abun Yani, Sabtu (8/6). Belasan orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan datang ke kediamannya, yang berada di Desa Kilangan, Kecamatan Muara Bulian, Batanghari. Mereka menggunakan pakaian rapi. Seorang di antaranya menggunakan mangguto (penutup kepala yang ujungnya runcing), yang dikenakan pria yang usia...