Postingan

Menampilkan postingan dengan label Inspirasi

Dongeng Sepakbola dari Tanah Jerman

Gambar
RB Leipzig. FOTO: twitter DONGENG indah Red Bull (RB) Leipzig berlanjut di Bundesliga. Jumat (18/11/2016), klub promosi ini menang 3-2 di kandang Bayer Leverkusen untuk mencapai puncak klasemen hanya 7 tahun setelah mereka didirikan! RB Leipzig secara hebat bangkit dari defisit 1-2 pada babak pertama menjadi unggul 3-2 pascajeda. Mereka dikejutkan oleh gol kilat pemain Leverkusen, Kevin Kampl, saat laga baru memasuki detik ke-60. Itulah gol tercepat di Bundesliga musim 2016-2017. Cuma 3 menit berselang, RB Leipzig menyamakan skor karena bunuh diri awak Leverkusen, Julian Baumgartlinger (4'). Gol Julian Brandt pada pengujung babak I membuat tuan rumah unggul 2-1 (45+2'). Hanya, keunggulan Leverkusen musnah akibat dwigol balasan Leipzig yang dicetak Emil Forsberg (67') dan Willi Orban (81'). Kiprahh tim promosi itu di Bundesliga musim 2016-2017 mengingatkan pelatih Borussia Dortmund, Thomas Tuchel, terhadap pencapaian Leicester City di Premier League musim 2015-2016. ...

John Stephen, Raja Tanpa Mahkota

Gambar
John Stephen Akhwari (foto:net) HARI sudah gelap. Sebagian lampu-lampu di stadion telah dipadamkan. Pertandingan lari marathon memang sudah lama berakhir. Tiga peraih medali, sudah berganti baju. Pesta di antara mereka sudah berlangsung. Di lapangan, meski masih tersisa beberapa pertandingan atletik, namun penonton sudah tidak sebanyak siang sebelumnya. Setelah lewat satu jam setelah lomba usai, tiba-tiba penonton dikejutkan pengumuman oleh panitia dari pengeras suara. Pertandingan ternyata belum usai. Masih ada satu pelari lagi yang akan memasuki stadion. Gemuruh tepuk tangan pun membahana di stadion saat seorang pelari mulai memasuki stadion. Para penonton berdiri dan memberikan standing ovation pada pelari bernomor 36 itu. Langkah sang pelari tak mulus lagi. Bahkan langkahnya sempat terhenti saat memasuki pintu stadion. Sejenak dia tampak meringis menahan sakit, tapi tekadnya sungguh mengalahkan segalanya. Dengan kaki terbebat perban, dengan langkah yang tak sempurna, dia me...

Indra Sjafri Menangis Ditanya Soal Gaji

Gambar
SUARA Indra Sjafri tiba-tiba seperti tercekat di tenggorokan. Ia menuangkan air mineral dalam botol plastik ke gelas, lalu mencecapnya perlahan. Matanya berkaca-kaca. “Minta tissue,” kata pelatih tim nasional U-19 itu kepada panitia Kuliah Tjokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi di Ruang Adi Sukadana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Sabtu sore, 30 November 2013. Indra Sjafrie (Foto: TEMPO/SETO WARDANA) Setelah menerima tissue, Indra mengusap matanya yang berair. Suasana ruangan seketika hening. Sekitar 200 mahasiswa dan dosen yang mengikuti kuliah kebangsaan itu terdiam. Setelah berhasil menguasai perasaanya, Indra melanjutkan pemaparan. “Akhirnya kami mampu melewati masa sulit,” kata dia. Ihwal keharuan Indra bermula saat ia mendapat pertanyaan dari salah seorang peserta kuliah: apakah istrinya tidak protes mengetahui dirinya tidak digaji oleh PSSI selama 20 bulan? Pada awal pemaparannya, Indra memang menjelaskan bahwa sejak diberi tugas menan...

Inspirasi dari Rimba: Demi Sebuah Pengabdian

NAMANYA Yusak Adrian Hutapea. Dia Sudah hampir 20 tahun menghadap Sang Khalik. Pria berdasah Batak yang lahir di Palembang ini tumbuh besar di Jakarta. Ia menamatkan sarjana Antropologi dari Universitas Gajah Mada. Yusak berasal dari keluarga mapan. Walau begitu, ia memilih meninggalkan kehidupan yang mewah di Jakarta. Tak lama setelah menamatkan sarjana, Yusak memilih menjelajahi rimbunnya hutan di Provinsi Jambi. Dia bersama teman-temannya di sebuah lembaga nirlaba, ingin mengabdikan dirinya mencerdaskan sebuah suku terasing yang hidup nomaden di pedalaman Provinsi Jambi. Orang Rimba, demikian nama suku yang ingin dimajukan Yusak dan teman-temannya. Siang malam mereka menjelajahi rimbunnya hutan untuk menemukan dan bisa berbaur dengan suku ini. Tidak mudah meyakinkan suku yang hidup secara berkelompok itu agar menerima niat baik mereka. Penolakan demi penolakan mereka rasakan saat berusaha mendekati seorang Tumenggung, ketua dalam sebuah kelompok. Kehadiran mereka malah diangg...

Si Anak Rimba yang Ingin Cerdaskan Kaumnya

Gambar
ORANG rimba selayaknya bangga, terutama bagi yang sudah merasakan betapa pentingnya ilmu pengetahuan. BESUDUT/DOC WARSI Sebab, seorang anak dari komunitas yang tinggal di pedalaman hutan Jambi, telah berhasil lulus SMA. Anak bernama Besudut, kini siap menjajal dunia perguruan tinggi. Besudut adalah nama yang disematkan orang tuanya yang tinggal di Taman Nasional Bukit Dua Belas. Namun, di dunia pendidikan, namanya menjadi Irman Jalil. Memang agak aneh satu orang memiliki dua nama, dan kedua nama itu pun sah. Ia lebih suka bila dipanggil dengan nama Besudut. Nama Irman Jalil disematkan oleh orang tua angkatnya, seorang warga Trans Tanah Garo, waktu ia menumpang tinggal di Tanah Garo agar bisa masuk sekolah formal. "Sebenarnya bapak kasih nama Herman Jalil. Tidak tahu mengapa tertulis jadi Irman Jalil," kata Besudut kepada Tribun Jambi (Tribun Network) beberapa waktu lalu. Ia tidak memermasalahkan adanya kesalahan dalam penulisan nama. Baginya, yang terpenting ...

Yussak, Antropolog yang Memilih Hidup Bercawat

Gambar
Bagi Yusak A Hutapea, Sarjana Antropologi UGM, kebahagiaanya berada di belantara Jambi, bergaul dengan orang rimba. Demi itu, kehidupan mapan ibukota ditinggalkan. Art performance mengenang Yussak. |suang sitanggang| Dia lebih memilih belajar memakai cawat, dan berakrab dengan orang rimba hingga malaria merenggut sebagian cita-citanya Meninggalkan kehidupan dalam keluarga yang sudah mapan. Itulah yang dilakukan Yusak Adrian Hutapea, pria batak kelahiran Palembang yang tumbuh besar di Jakarta. Yusak mengejar mimpi barunya memberikan kehidupan yang lebih manusiawi untuk orang rimba. Dia tinggalkan orang tua, kakak, adik, dan pacar yang sangat dicintai. Bukan hal mudah. Terlebih meninggalkan mereka hanya demi berkelana di belantara hutan Jambi, demi menemui orang rimba, suku marginal di Provinsi Jambi. Namun keputusan itulah yang sudah diambil Yusak Adrian Hutapea, 15 tahun silam. Dia minta izin kepada orangtuanya untuk bekerja di Jambi. Orangtuanya tidak diberitahu bila Yu...