MIMPI SI ANAK RIMBA BUKIT DUA BELAS

“Akeh ndok kemono semampu akeh, Akeh ndok belajor, akeh ndok pengen pintar. Au, akeh harop induk bepake memperjuangkan, au rombong minta jugo memperjuangkan, pemerintah jugo harop memperjuangkan (Saya mau belajar kemanapun semampu saya. Saya ingin pintar. Saya harap ibu dan bapak turut mendukung, dan dari kelompok rimba juga mendukung. Terutama dukungan pemerintah sangat diharapkan),” ujar Besigar (15), salah satu anak rimba dari kelompok Kedundung Muda Taman Nasional Bukit Dua Belas.
Besigar (kanan belakang) ketika berangkat pergi sekolah. Foto Heriyadi/Dok KKI Warsi

Besigar menjalin satu per satu mimpi-mimpinya untuk mendapatkan pendidikan sama dengan anak lain seusianya. Diawali dengan  ikut baca tulis hitung di pedalaman TNBD bersama fasilitator pendidikan KKI Warsi, hingga beberapa tahun belakangan mulai mengenal sekolah formal dengan format kelas jauh.  Dua tahun tahun dengan metoda kelas jauh, Besigar dinyatakan berhak untuk ikut Ujian Nasional tingkat Sekolah Dasar.

Sabtu  (8/6) adalah saat yang mendebarkan bagi Besigar bersama temannya rimbanya, Meranggai, Perbal, Sekolah, Bejujung, Besiar, dan Budi, mereka  mengetahui kelangsungan masa depan pendidikan mereka.  Beruntung pada pengumuman itu, tujuh anak rimba ini  dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan.

Tahun ini  Sekolah Dasar Negeri 191, Pematang Kabau II, Kecamatan Sarolangun tempat mereka belajar, hanya mendaftarkan sembilan muridnya mengikuti Ujian nasional. Dan semua pesertanya adalah anak rimba yang berasal dari kelompok Kedundung Muda ini. “Semua siswa yang terdaftar untuk mengikuti Ujian Nasional di sekolah ini adalah anak rimba, selain tujuh orang yang dinyatakan lulus, dua anak rimba lainnya yaitu Betulus dan Bedowo dinyatakan tidak lulus karena mereka tidak mengikuti proses UN dikarenakan ada urusan keluarga yang menyebabkan mereka tidak bisa mengikuti ujian pada pelaksanaan UN beberapa waktu lalu,”sebut Shasa Fasilitator Pendidikan KKI Warsi.

Kabar kelulusan para murid SD ini diterima Shasa melalui pesan singkat yang disampaikan Kepsek SDN 191 Pematang Kabau.  Kabar ini, Tentu saja disambut gembira oleh tujuh anak rimba yang telah berkumpul di kantor lapangan KKI Warsi yang berada di pinggir Taman Nasional Bukit Dua Belas tepatnya di SPI Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Sarolangun.

Meski ini bukan keberhasilan pertama bagi orang rimba dalam menamatkan sekolah formal,  namun tetap saja keberhasilan kali ini, semakin membuka peluang besar bagi anak-anak rimba yang ingin menguntai mimpi-mimpi mereka melalui sekolah formal untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Dengan tambahan lulusan tahun ini, telah tercatat sudah 60 anak rimba yang telah berhasil menamatkan sekolah dasar,  12 orang anak rimba yang saat ini belajar di Sekolah Menengah Pertama dan satu anak rimba yang telah berhasil menanamatkan Sekolah Menengah Atas.  Keberhasilan yang diperoleh ini bukanlah sebuah langkah mudah.  Banyak rintangan demi rintangan dihadapi mengemas satu per satu mimpi anak-anak rimba ini.

Berdasarkan mitologi yang dipercaya Orang Rimba, pola kehidupan yang berlaku di orang rimba sekarang merupakan turunan dari nenek moyang mereka dahulu kala, yang mengambil pola hidup berkebalikan dengan masyarakat melayu. Segala sesuatu yang menjadi adat dan budaya melayu disikapi dengan cara berkebalikan oleh orang rimba. Misalnya ketika orang melayu berumah,  berkampung, orang rimba sebaliknya tanpa rumah dan hidup berpindah. Dari segi makananpun, segala sesuatu yang haram di masyarakat melayu sah bagi OrangRimba, namun segala sesuatu yang di makan Orang Rimba halal bagi masyarakat melayu.

Dengan kebiasaan ini, pendidikan dalam arti sekolah yang merupakan suatu kebiasaan bagi masyarakat melayu, awalnya juga dianggap tabu oleh Orang Rimba. Hingga pada tahun 1998, Warsi memperkenalkan metode baca tulis hitung pada Orang Rimba dengan langsung melakukannya di kelompok-kelompok Orang Rimba dan tanpa gedung, aturan sekolah apalagi kurikulum.

Pendidikan dilakukan dengan sangat sederhana, hanya mengenalkan huruf, cara membacanya, menuliskan huruf dan cara berhitung. Karena inilah yang diperlukan Orang Rimba kala interaksi perdagangan dan persinggungan lahan semakin rapat dengan kelompok masyarakat melayu.

Yusak Adrean Hutapea (alm) memulai mengenalkan pendidikan bagi anak-anak rimba ini sejak 1988, meski sempat di tolak Yusak tetap bersemangat dan mencari cara yang jitu untuk memperkenalkan ruf dan angka di belantara. Tak ada bangku, ruang kelas ataupun seragam.  Yusak mengajari anak-anak rimba hruf demi huruf kadang di pondoknya yang sederhana di tengah rimba, kadang dipingir kebun, kadang di bawah pohon tumbang pokoknya memlih tempat sesuai yang diinginkan anak-anak rimba. Siang, pagi, sore bahkan tengah malam bisa menjadi waktu belajar. Sembari memeci, sembari berenang, sembari memancing semua bisa menjadi medium belajar.  Papan tulis bisa di ganti dengan dinding pondok, atau diatas tanah dengan ranting sebagai  spidolnya. Apapun dari alam dimanfaatkan untuk meretas aksara dibelantara.  Metode pengajaran yang memadukan unsur alam, adat orang rimba dan pendekatan-pendekatan  intensif mampu meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik  Orang Rimba.

Perlahan Orang Rimba mulai menerima proses belajar tersebut.  Mereka merasakan kemampuan mambaca, menulis dan berhitung yang dimiliki bukan merusak adat, tapi ini untuk mempertahankan adat itu sendiri dan mempertahankan kawasan hidup mereka, sekaligus menaikkan posisi berganing mereka terutama dalam hal perdagangan. Pendidikan menjadi senjata bagi mereka untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Ilmu luaron, demikian mereka menyebut pendidikan yang diberikan, ini pada akhirnya berguna menopang kehidupan Orang Rimba, terutama dalam mempertahankan hak-hak dasar dan sumber daya untuk mendukung kehidupan mereka.

Seiring perkembangan waktu, sebagian anak rimba selain bersekolah di dalam rimba, beberapa juga sudah mulai diintegrasikan dengan sekolah formal untuk mendapatkan legalitas pendidikan oleh pemerintah dalam hal ini sekolah formal.  Ini juga penting dilakukan kala anak-anak rimba sudah mulai punya cita-cita seperti jadi guru, jadi dokter, jadi peneliti dan sebagainya.

Pendidikan sudah menjadi kebutuhan sebagian orang rimba. pada orang tua yang dulunya menolak pendidikan, kini mulai mendorong anak-anaknya untuk bersekolah.  Meratai, ayah Besigar  menaruh harapan yang besar pada anak laki-lakinya ini. “Akeh punyo anak jenton duo orang, sikuk hopi ngikut kato orang tuo, hopi ndok sekola. Akeh bersyukur Besigar luluy. Akeh akan memperjuangkan, membenokkan sampe kemanopun Besigar ndok sekola. Semuo keperluannyo akeh tanggung. Akeh harop guru gono-gono mengajarinya,gono-gono mendidik"

(Saya punya dua anak laki-laki, satu orang tidak mau bersekolah. Saya bersyukur Besigar lulus. Saya akan perjuangkan supaya dio bisa sekolah sampai kemampuan dia, semua keperluannya akan saya usahakan, saya berharap guru mengajari dan mendidiknya).

sumber: http://kkiwarsi.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik