Inspirasi dari Rimba: Demi Sebuah Pengabdian


NAMANYA Yusak Adrian Hutapea. Dia Sudah hampir 20 tahun menghadap Sang Khalik. Pria berdasah Batak yang lahir di Palembang ini tumbuh besar di Jakarta. Ia menamatkan sarjana Antropologi dari Universitas Gajah Mada.

Yusak berasal dari keluarga mapan. Walau begitu, ia memilih meninggalkan kehidupan yang mewah di Jakarta. Tak lama setelah menamatkan sarjana, Yusak memilih menjelajahi rimbunnya hutan di Provinsi Jambi. Dia bersama teman-temannya di sebuah lembaga nirlaba, ingin mengabdikan dirinya mencerdaskan sebuah suku terasing yang hidup nomaden di pedalaman Provinsi Jambi.

Orang Rimba, demikian nama suku yang ingin dimajukan Yusak dan teman-temannya. Siang malam mereka menjelajahi rimbunnya hutan untuk menemukan dan bisa berbaur dengan suku ini. Tidak mudah meyakinkan suku yang hidup secara berkelompok itu agar menerima niat baik mereka.

Penolakan demi penolakan mereka rasakan saat berusaha mendekati seorang Tumenggung, ketua dalam sebuah kelompok. Kehadiran mereka malah dianggap akan mendatangkan bencana. Orang Rimba kala itu beranggapan bahwa pendidikan akan membuat dewa akan marah kepada mereka.

Namun niat yang tulus untuk mencerdaskan orang rimba yang kala itu belum bisa baca tulis menjadi semangat bagi Yusak dan teman-temannya untuk terus berusaha bisa berbaur dengan Orang Rimba. Setelah lebih setengah tahun berusaha, akhirnya ada sebuah senyuman di wajah Yusak.

Beberapa anak rimba diam-diam tertarik dengan rencana Yusak. Anak-anak itu mengikuti Yusak tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Mulailah mereka diajari membaca dan berhitung. Jangan dipikirkan proses itu dilakukan di ruangan kelas seperti umumnya. Mereka melakukannya di alam.

Tidak ada aturan khusus dalam proses belajar-mengajar itu. Tidak perlu bawa buku, tak perlu pula pakai seragam. Papan tulis bisa diganti dengan tanah. Kapur bisa diganti dengan ranting pohon. Anak-anak diajari menulis dia atas tanah dan dinding pondok, atau media lainnya yang ada di hutan.

Semangat Yusak semakin menggebu-gebu. Ia semakin rajin keluar masuk hutan untuk bertemu dan memberi pelajaran kepada anak-anak itu. Lambat laun ia membelikan buku tulis dan pensil untuk anak-anak tersebut. Selama itu, proses masih dilakukan secara rahasia, agar tidak diketahui orang tua dan pemangku adat, terlebih Tumenggung yang diyakini bakal marah besar.

Hampir setahun lamanya di dalam hutan, Yusak pulang sebentar ke Jakarta. Ia rindu dengan orang tua dan saudaranya, dan juga gadis pujaan hatinya. Hanya sebentar di Jakarta, Yusak kembali lagi ke Jambi, karena kerinduannya kepada anak-anak rimba.

Namun sebelum kembali ke Jambi, dia sudah bertunangan dengan gadis pujaan hatinya itu. Tidak sampai setengah tahun lagi dia berjanji akan menikahinya. Yusak sudah berpesan kepada orang tua dan saudaranya agar mulai membuat persiapan untuk hari bahagia itu. Calon istrinya tentu bahagia.

Di tengah rimbunnya hutan Jambi, Yusak kembali menemui murid-muridnya. Sukacita yang luar biasa ia rasakan saat bersama anak-anak itu. “Ma, saya masih di mes. Besok saya akan masuk lagi ke hutan mengajari anak rimba. Mama jangan khawatir ya,” kata Yusak kepada ibunya lewat telepon.

Hari itu Yussak bertemu lagi dengan murid-muridnya. Secara tulus, tanpa mengharapkan imbalan apapun, ia mengajari anak-anak yang hanya menggunakan cawat itu menulis dan membaca. Yusak meminta  muridnya
terus belajar supaya pintar, supaya tidak dibodoh-bodohi orang desa.

Sebelum berpamitan untuk pulang ke pondoknya, Yusak merasa badannya sedang tidak enak. Walau begitu ia masih tetap berusaha berjalan ke arah pondoknya yang lumayan jauh dari tempatnya bisa bertemu dengan anak-anak yang diajarinya itu.

Kian lama badannya terasa menggigil. Sendi-sendinya terasa mau copot. Beberapa orang rimba yang melihat Yusak tak berdaya, membawanya ke pondok. Di sana beberapa temannya terkejut melihat kondisi Yusak yang sangat lemah.

Dengan segala upaya, mereka membawa Yusak ke Puskesmas terdekat, yang ditempuh dengan jalan kaki lebih daru dua jam. Yusak tidak terlalu lama di Puskesmas itu. Sakit yang dideritanya akhirnya hilang, seiring nafasnya yang tidak berhembus lagi,  25 Maret 1999. Malaria merenggut nyawanya. (*)

Silahkan baca juga kisah Yusak di Guru Rimba disini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik