Besalih, Pengharapan Terakhir Suku Bathin IX

FOTO: KOMPAS/IRMA TAMBUNAN
RITUAL besalih dilaksanakan secara turun-temurun oleh komunitas terasing suku Bathin IX di Kabupaten Batanghari, Jambi. Namun, tradisi yang bertujuan memohon kesembuhan kepada Sang Pencipta ini semakin langka. Suasana pelaksanaan ritual besalih di Desa Singkawang, Kecamatan Muara Bulian, Batanghari, Rabu (16/2).

Dua pria berjalan terseret memegang burung ondan. Mereka kemudian berhadapan dan menggerakkan tangan begitu cepat ke arah lawan. Salah satu pria tiba-tiba terjatuh kaku. Si burung ondan lepas dari tangannya. Suasana mencekam dalam iringan mantra dan tabuh rebana sepanjang malam, pertengahan Februari lalu.

Sejumlah warga dengan cepat mendekap Sultani (50), pria yang terjatuh kaku. Sebuah mangkuk berasap kemenyan didekatkan kepadanya. Sultani akhirnya terjaga dan langsung mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. Ia terlihat sangat letih.

Sepanjang malam, Sultani pingsan hingga lima kali dalam ritual besalih yang digelar masyarakat suku terasing Bathin IX di Desa Singkawang, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari, Jambi. Tidak hanya dirinya, sang guru, Datuk Mahmud, juga kerap mengalami kekakuan serupa dan baru terjaga setelah menghirup asap kemenyan.

Udara dalam ruangan diliputi bau dan asap kemenyan. Ruangan kian sesak karena rumah tempat besalih digelar dipadati orang tua dan anak-anak hingga ke halaman. Wajah mereka menyembul dari balik jendela dan lubang-lubang angin, menyaksikan ritual langka ini.

Bagi orang awam, ritual besalih terkesan magis. Selain orang-orang yang pingsan saat prosesi digelar, aneka sesajen juga memenuhi miniatur sebuah bangunan dari batang asam payau yang mereka sebut balai penghadap dan balai pengasih. Kedua balai ditempatkan di bagian atas ruangan.

Hampir sepanjang acara, Sultani dan Datuk Mahmud berjalan terseret tanpa henti memutari balai pengasih, tempat seorang anak yang sakit duduk di bawahnya. Sementara di balai penghadap tersimpan semua alat perhiasan, seperti burung ondan yang terbuat dari jalinan daun kelapa.

Suasana magis juga terasa lekat saat rebana mulai ditabuh, lalu sang dukun mengucapkan mantra-mantra. Pada sesi lain Datuk Mahmud mengupas batang mayang sebagai media untuk melihat para nenek moyang walau di mata kami pada batang itu hanya tampak ruas-ruas berisi butiran sebesar beras sebagai cikal bakal buah pinang. Sultani kemudian mengentak-entakkan mayang ke tubuhnya hingga semua biji terlepas ke udara.

Walau diliputi nuansa magis, tidak ada satu pengunjung pun yang takut. Seluruh rangkaian atraksi ini mengesankan dan indah untuk diikuti hingga selesai. Datuk Mahmud berusaha meyakinkan kami, inilah doa yang dipersembahkan untuk Sang Pencipta.

Besalih berarti berobat. Ini adalah ritual doa untuk memohon kesembuhan kepada Tuhan sekaligus mencari sebab munculnya penyakit. Dalam proses berjalan berputar yang mereka sebut sebagai berpusing untuk mencari perasaan, Datuk Mahmud menjelaskan, mungkin saja ada kekuatan lain di sekitar mereka yang mewarnai proses ritual. Namun, pada akhirnya mereka mampu mengakhiri ritual dalam kesadaran penuh. ”Di sinilah kami meyakini doa memohon kesembuhan akan dikabulkan,” ujar Datuk Mahmud.

Keyakinan itu tergambar pada puncak ritual. Kedua dukun menyerak hamparan bara api di tanah hingga padam. Padamnya bara menjadi penanda bahwa keadaan membaik. Benar saja, setelah seluruh bara diserakkan, kami tidak lagi merasakan panas saat menginjaknya.

Datuk Mahmud bercerita, ritual besalih telah hidup sejak masuknya nenek moyang suku Bathin IX dari Kerajaan Mataram ke tanah Jambi, diperkirakan sejak abad ke-14. Ritual ini digelar untuk memohon kesembuhan. Warga yang menempuh cara ini umumnya menderita penyakit akut dan tak kunjung sembuh meski telah minum berbagai jenis obat.

Pada perkembangannya, besalih juga dilaksanakan untuk memohon keselamatan bagi perempuan yang tengah mengandung atau mohon jodoh bagi muda-mudi yang belum menikah. Belakangan, besalih tidak hanya digelar bagi kesembuhan warga setempat. Ada pula orang luar yang meminta besalih digelar karena percaya dengan pengobatan ini.

Masyarakat Bathin IX meyakini datangnya kesembuhan melalui besalih sehingga mereka saling mendukung untuk melaksanakannya. Karena itulah, besalih selalu ramai. Pada acara yang digelar bagi kesembuhan Alfaris (3), anak pasangan Herman dan Salma, malam Rabu itu, sekitar 70 orang hadir.

Persiapan besalih cukup rumit, antara lain memasak sesajen berupa ketan bersantan, wajik, cucur, serabi, dodol, dan caco yang dibuat dari sejumlah bumbu bercampur santan. Lelaki membuat berbagai perhiasan dan balai-balai tempat sesajen dipasang. Untuk ritual besalih lengkap, warga membuat lima hingga enam balai.

Semakin banyak balai, semakin banyak pula sesajen dan perhiasan yang disiapkan, seperti siri layang, burung ondan, burung denak, burung elang, lelayang, dan burung bebarau. Pembuatan berbagai perhiasan ini diyakini dapat menghibur anak yang sakit agar cepat sembuh.

Ritual besalih juga berbiaya mahal. Dulu sebagian besar bahan sesajen dan perhiasan mudah diambil dari hutan. Namun, karena hutan kini makin habis, sebagian besar bahan dibeli sebesar Rp 2 juta-Rp 3 juta sehingga mulai membebani warga Bathin IX. Selain itu, kayu asam payo untuk membuat balai pun makin langka. Untuk mendapat kayu yang tumbuh di lahan rawa ini, warga harus berjalan jauh ke dalam hutan.

Ketua Himpunan Suku Anak Dalam Bathin IX Abunyani mengatakan, saat ini dari 21 desa yang dihuni komunitas Bathin IX, tinggal delapan desa yang masih bertahan menggelar besalih. Selain itu, hampir tak pernah ada lagi prosesi yang digelar secara penuh, yaitu selama 12 jam, mulai pukul 19.00 hingga esok hari pukul 07.00. Kini besalih paling lama lima jam saja untuk menghemat biaya dan tenaga. Biayanya pun ditekan menjadi Rp 300.000-Rp 500.000.

Ritual besalih menjadi pengharapan terakhir bagi masyarakat Bathin IX. Namun, keindahan ritual ini terancam punah seiring rusaknya hutan mereka. Entah sampai kapan besalih dapat bertahan....
(sumber: kompas.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik