Postingan

Jokowi-JK, Harapan Baru

Gambar
PENGHITUNGAN suara hasil pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia telah usai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai peraih suara terbanyak. Pasangan ini memperoleh 53,15 persen dari suara sah.  Pesaingnya, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, memperoleh 46,85 persen. Bila tidak ada aral melintang Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada Oktober mendatang. Selamat datang pemimpin baru. Selamat kepada Jokowi-JK! Cita-cita dan harapan rakyat dititipkan ke pundakmu. Keputusan KPU tersebut juga mengakhiri polemik di masyarakat tentang siapa pemenang Pilpres, karena adanya perbedaan hasil hitung cepat dari beberapa lembaga survei. Hasil penghitungan yang dilakukan KPU harus menjadi rujukan terakhir. Setelah selesainya penghitungan itu, kini kembali kepada semua pihak untuk tetap menjaga dan mengedepankan kepentingan bangsa, menghormati apa pun keputusan yang dikeluarkan KPU. Y...

Prabowo, Kebebasan Pers, dan Netralitas Media

AWALNYA saya tertawa membaca berita di sebuah media online papan atas Tanah Air. Berita itu berisi reaksi Prabowo terhadap sejumlah wartawan yang ingin mewawancarainya bertepatan di hari pemungutan suara Pemilihan Presiden. Sejumlah wartawan nasional dan internasional siap-siap mewawancarainya. Namun tanpa disangka-sangka, dia memarahi sejumlah wartawan, diantaranya wartawan dari beritasatu, kompas, tempo, dan metro tv. Dia merasa media-media tersebut tidak mendukungnya. Katanya tidak fair, sadis, dan ocehan lainnya. Bahkan wawancara dengan metro tv tidak dilayaninya. Benarkah apa yang diungkapkan Prabowo? Bila melihat selama masa pemilihan presiden, mulai dari sebelum kampanye hingga pemilihan presiden, media-media di atas memang menunjukkan tidak berpihak kepada Prabowo. Media di Indonesia terpecah pada masa pemilihan presiden. Ada yang pro terhadap Prabowo dan ada juga yang pro terhadap Jokowi, serta ada yang memilih netral. Ada media yang habis-habisan mendukung calon preside...

Fitnah, Politik, dan Akhirat

Gambar
DISKUSI singkat dengan seorang teman kemarin sore (11/6/2014) mengingatkanku tentang pelajaran berharga yang saya dapatkan beberapa tahun lalu. Pelajaran itu adalah pengetahuan kehidupan. Salah satu pokok bahasannya tentang ajaran 6 agama besar yang dianut bangsa Indonesia.   ilustrasi Diskusi yang sebenarnya cukup singkat terkait aktivitas politik di era kampanye Pilpres 2014. Kita berbicara mulai dari pendukung calon hingga calon itu sendiri. Satu poin penting yang jadi sorotan adalah maraknya fitnah terhadap calon presiden.   "Kalau di kami umat Islam, fitnah itu sangat berat hukumannya. Orang yang melakukan fitnah harus meminta maaf langsung kepada orang yang difitnahnya bila ingin dosanya diampuni Allah," kata teman itu. Pelaku fitnah juga harus meminta maaf kepada orang2 yang terlanjur percaya atas fitnah yang telah disebarnya. Ya, ini sudah pernah saya pelajari dan teman ini kembali mengingatkan saya. Soal fitnah ini, sebenanrnya bukan hanya dilarang dalam...

Ja'far Umar Thalib Tidak Layak Jadi WNI

Gambar
PALINGMA Laskar Jihad Ja'far Umar Thalib menegaskan dirinya tidak takut kepada Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Hal ini dinyatakan di hadapan ratusan orang dalam acara tabligh akbar berjudul “Perang Melawan Pluralisme” di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, Minggu (8/6/2014). Ja'far Umar Thalib (tengah). foto:suaramerdeka.com Ja’far mengatakan dirinya siap berperang melawan pluralisme karena menurut dia, Islam tidak mengenal paham tersebut. Penolakan dan kecaman untuk hidup dalam keberagaman itu ditujukan juga kepada Raja Kraton Yogyakarta yang dianggap selalu menyerukan pluralisme. “Umat Islam menentang pluralisme. Biarpun Sultan bilang begitu, saya tidak takut kepada Sultan. Meskipun ratusan Kraton bersatu, saya tidak takut,” katanya. Ia pun mengatakan, salah satu resiko berperang melawan pluralisme adalah ditangkap Polisi. Tapi menurut dia, itu adalah resiko biasa dalam berperang. Ditambah lagi, Ja’far Umar Thalib mengaku tidak punya rasa takut kep...

Pernyataan Prabowo Menyakiti Hati Paian

Gambar
KELUARGA korban penghilangan paksa dan penculikan para aktivis di kerusuhan 1998 merasa sakit hati dan dibuka kembali luka lamanya terkait pernyataan mantan Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto yang menyatakan tak terlibat dalam kasus tersebut. Menurut para keluarga korban, Prabowo melepas tanggung jawab lantaran ingin maju kembali dalam pemilu presiden pada 2014. Prabowo Subianto. foto:kompas.com Paian Siahaan, orangtua dari Ucok Munandar Siahaan, korban penghilangan paksa dan penculikan aktivis pada 1998, mengatakan, indikasi terlibatnya Prabowo dalam operasi itu sangat kuat. Pasalnya, Prabowo merupakan komandan yang bertanggung jawab atas operasi yang dilakukan oleh Tim Mawar pada 1998. Paian melanjutkan, sepengetahuannya Prabowo tak pernah hadir saat dipanggil oleh Komnas HAM dan DPR. Kalau memang benar tak terlibat, kata Paian, seharusnya Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra itu memenuhi panggilan Komnas HAM dan DPR untuk memberi penjelasan secara rinci mengenai ...

Media di Era Pilpres: Diserang tapi Disayang

SEORANG teman menulis status di akun facebooknya, media sekarang sudah tidak tepat lagi dikatakan sebagai pilar demokrasi keempat. Media sudah berpihak ke capres tertentu. Harusnya media jadi alat menyampaikan fakta. Media tidak bisa dipercaya lagi. Media sudah dibayar untuk pencitraan. Bagi saya pribadi, status di akun facebooknya itu cukup menarik sekaligus menggelitik. Mengapa demikian? Setelah saya baca beberapa link yang disebarnya melalui jejaring sosial, ternyata yang di-share merupakan link dari sejumlah media elektronik atau portal. Ada dari kompas.com, tribunnews.com, detik.com, dan portal milik media massa besar lainnya. Saya tersenyum. Ternyata link berita yang di-share-nya itu hanya link berita yang positif tentang capres jagoannya dan link berita berbau negatif dari rival capresnya. Saya tahu bahwa beliau merupakan seorang kader partai, dan menjadi tim sukses seorang capres juga, yang dikampanyekannya lewat facebook. Saya menyadari, bahwa di era digital saat ini, me...

Jokowi Vs Prabowo: Buang Fanatismemu, Kawan!

Gambar
DUA orang sahabat diskusi berdebat panjang tentang dua sosok calon presiden yang bakal bertarung di Pilpres 2014: Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto (Prabowo). Satu orang pro Jokowi dan satu lagi pro Prabowo. Mereka sahabat lama yang memang telah sering diskusi dengan masalah sosial dan politik. Perdebatannya panjang lebar dan bahkan terlalu melebar. Masing-masing mengagungkan kehebatan idolanya, dan tentu saja tak lupa melakukan serangan dengan mengungkap sejumlah kelemahan lawannya. Mereka menggunakan referensi pemberitaan di media massa dan dibumbui desas-desus alias gosip. Pendukung Jokowi menyebut yang pantas memimpin Indonesia saat ini adalah Jokowi. Ia mengemukakan banyak alasan, diantaranya kemampuan Jokowi merelokasi ribuan warga yang telah mendiami sejumlah bantaran sungai di Jakarta ke rumah susun yang layak huni. Dia melakukan revitalisasi sejumlah waduk. Tak hanya itu, ia juga menyebut selama menjadi Wali Kota Solo, Jokowi telah mampu membangun pasar tradiso...