Media di Era Pilpres: Diserang tapi Disayang
SEORANG teman menulis status di akun facebooknya, media sekarang sudah tidak tepat lagi dikatakan sebagai pilar demokrasi keempat. Media sudah berpihak ke capres tertentu. Harusnya media jadi alat menyampaikan fakta. Media tidak bisa dipercaya lagi. Media sudah dibayar untuk pencitraan.
Bagi saya pribadi, status di akun facebooknya itu cukup menarik sekaligus menggelitik. Mengapa demikian? Setelah saya baca beberapa link yang disebarnya melalui jejaring sosial, ternyata yang di-share merupakan link dari sejumlah media elektronik atau portal. Ada dari kompas.com, tribunnews.com, detik.com, dan portal milik media massa besar lainnya.
Saya tersenyum. Ternyata link berita yang di-share-nya itu hanya link berita yang positif tentang capres jagoannya dan link berita berbau negatif dari rival capresnya. Saya tahu bahwa beliau merupakan seorang kader partai, dan menjadi tim sukses seorang capres juga, yang dikampanyekannya lewat facebook.
Saya menyadari, bahwa di era digital saat ini, media massa begitu dirindukan kehadiran beritanya, namun di sisi lain juga begitu dibenci mana kala informasi yang disampaikan berupa hal-hal negatif tentang 'idola' seseorang, sekalipun itu fakta. Orang akan dengan mudah 'menghukum' media dengan menyebut bahwa media tersebut telah dibayar mahal oleh seseorang untuk mencitrakan orang tertentu dan membusuk-busukkan orang tertentu.
Di era Pilpres ini, orang akan sangat mencintai media yang menyanjung-nyanjung 'tokoh' idolanya, dan akan menyerang habis-habisan media yang kerap menyampaikan 'keburukan' dari idolanya tersebut. Sepertinya, masyarakat kita, termasuk dari golongan berpendidikan, masih cukup banyak yang belum bisa menerima 'kenyataan'.
Sungguh malang nasibmu hai media massa, engkau disayang namun juga dibenci. Namun lebih malang lagi nasib orang-orang yang tidak sadar diri, yang belum siap menerima 'idolanya' adalah tokoh hitam. Salam.
Bagi saya pribadi, status di akun facebooknya itu cukup menarik sekaligus menggelitik. Mengapa demikian? Setelah saya baca beberapa link yang disebarnya melalui jejaring sosial, ternyata yang di-share merupakan link dari sejumlah media elektronik atau portal. Ada dari kompas.com, tribunnews.com, detik.com, dan portal milik media massa besar lainnya.
Saya tersenyum. Ternyata link berita yang di-share-nya itu hanya link berita yang positif tentang capres jagoannya dan link berita berbau negatif dari rival capresnya. Saya tahu bahwa beliau merupakan seorang kader partai, dan menjadi tim sukses seorang capres juga, yang dikampanyekannya lewat facebook.
Saya menyadari, bahwa di era digital saat ini, media massa begitu dirindukan kehadiran beritanya, namun di sisi lain juga begitu dibenci mana kala informasi yang disampaikan berupa hal-hal negatif tentang 'idola' seseorang, sekalipun itu fakta. Orang akan dengan mudah 'menghukum' media dengan menyebut bahwa media tersebut telah dibayar mahal oleh seseorang untuk mencitrakan orang tertentu dan membusuk-busukkan orang tertentu.
Di era Pilpres ini, orang akan sangat mencintai media yang menyanjung-nyanjung 'tokoh' idolanya, dan akan menyerang habis-habisan media yang kerap menyampaikan 'keburukan' dari idolanya tersebut. Sepertinya, masyarakat kita, termasuk dari golongan berpendidikan, masih cukup banyak yang belum bisa menerima 'kenyataan'.
Sungguh malang nasibmu hai media massa, engkau disayang namun juga dibenci. Namun lebih malang lagi nasib orang-orang yang tidak sadar diri, yang belum siap menerima 'idolanya' adalah tokoh hitam. Salam.
Komentar
Posting Komentar