Jokowi-JK, Harapan Baru

PENGHITUNGAN suara hasil pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia telah usai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai peraih suara terbanyak.Pasangan ini memperoleh 53,15 persen dari suara sah. 

Pesaingnya, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, memperoleh 46,85 persen. Bila tidak ada aral melintang Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada Oktober mendatang.

Selamat datang pemimpin baru. Selamat kepada Jokowi-JK! Cita-cita dan harapan rakyat dititipkan ke pundakmu.

Keputusan KPU tersebut juga mengakhiri polemik di masyarakat tentang siapa pemenang Pilpres, karena adanya perbedaan hasil hitung cepat dari beberapa lembaga survei. Hasil penghitungan yang dilakukan KPU harus menjadi rujukan terakhir.


Setelah selesainya penghitungan itu, kini kembali kepada semua pihak untuk tetap menjaga dan mengedepankan kepentingan bangsa, menghormati apa pun keputusan yang dikeluarkan KPU. Yang menang tidak perlu larut dalam euforia, dan yang kalah tidak perlu mengumbar kebencian. Saatnya kembali bersatu.


Bahwa ada keluhan, ketidakpuasan, kekecewaan, dan ketidaksempurnaan dalam pelaksanaan Pilpres, dapatlah disebut sebagai bagian dari sebuah pesta besar yang melibatkan jutaan orang. Rakyat yang sudah ikut pesta, dengan tulus melaksanakan haknya memilih calon presiden dan calon wakil presiden.


Memang ada yang berpendapat, bahwa terlalu muluk kalau berharap hasil pemilihan presiden ini akan langsung membawa perubahan signifikan, terutama bagi rakyat. Dari era yang satu ke era pemerintahan lain, dari orde baru ke orde reformasi, rakyat selalu saja jadi penonton di luar panggung pesta.


Masih saja banyak rakyat miskin berdesak-desakan di permukiman kumuh, masih saja ada anak yang putus sekolah, bahkan masih kerap ditemui cerita tentang anak yang terpaksa memasuki 'dunia gelap' karena faktor kemiskinan.


Di negeri ini, melihat orang yang menahan rasa sakit karena tidak punya uang untuk berobat bukan cerita basi. Ini fakta yang masih sering ditemui. Tindak kekerasan yang dilakukan ormas terhadap sebuah kelompok pun masih langganan.


Masih banyak lagi 'penyakit' yang belum sembuh di negara ini. Sektor Migas misalnya, hingga kini masih dikuasai perusahaan asing. Demikian juga dengan subsektor peternakan, yang hingga kini Indonesia masih mengimpor daging sapi, padahal jutaan hektar banyak lahan yang bisa dimanfaatkan jadi peternakan.


Ini artinya Jokowi-JK, bila nanti telah dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden memiliki beban yang berat. Beban itu pun semakin berat karena pada masa kampanye, keduanya telah mengumbar 'resep' untuk menyelesaikan berbagai penyakit akut di negeri ini.


Bagi pendukung Jokowi-JK, dan juga pendukung Prabowo-Hatta Rajasa, saatnya kini bersatu memantau dan mengawasi kinerja Jokowi-JK saat sudah menjabat. Mengapa? Sebab Jokowi-JK dipilih bukan untuk menjadi raja, tapi sebagai abdi atau pelayan masyarakat. Mereka berdua dipilih untuk mengayomi rakyat.


Sangat menarik menyimak yang diungkapkan Bimbin, personel Slank saat masa kampanye yang lalu. Bimbim mengatakan akan menarik dukungannya jika Jokowi-JK terpilih menjadi presiden dan wakil presiden. Rencana itu dipilih karena ingin menjadi bagian dari parlemen jalanan yang mengawasi pemerintahan.


Artinya, pada masa jabatannya nanti, Jokowi-JK yang banyak berharap pada sanjung puji. Hari-hari mereka akan dipenuhi kritik dan caci maki. Akan ada masanya ketika mereka merasa lelah dan dunia berbalik menyerang.


Namun Jokowi-JK juga harus percaya, jika memang kebaikan untuk negeri yang diperjuangkan, rakyat Indonesia tidak akan melupakan. Masih banyak yang selalu berdoa dan berjuang untuk negeri ini. Selamat bekerja dan selamat berkarya. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik