Fitnah, Politik, dan Akhirat
DISKUSI singkat dengan seorang teman kemarin sore (11/6/2014) mengingatkanku tentang pelajaran berharga yang saya dapatkan beberapa tahun lalu. Pelajaran itu adalah pengetahuan kehidupan. Salah satu pokok bahasannya tentang ajaran 6 agama besar yang dianut bangsa Indonesia.
![]() |
| ilustrasi |
Diskusi yang sebenarnya cukup singkat terkait aktivitas politik di era kampanye Pilpres 2014. Kita berbicara mulai dari pendukung calon hingga calon itu sendiri. Satu poin penting yang jadi sorotan adalah maraknya fitnah terhadap calon presiden.
"Kalau di kami umat Islam, fitnah itu sangat berat hukumannya. Orang yang melakukan fitnah harus meminta maaf langsung kepada orang yang difitnahnya bila ingin dosanya diampuni Allah," kata teman itu. Pelaku fitnah juga harus meminta maaf kepada orang2 yang terlanjur percaya atas fitnah yang telah disebarnya.
Ya, ini sudah pernah saya pelajari dan teman ini kembali mengingatkan saya. Soal fitnah ini, sebenanrnya bukan hanya dilarang dalam agama Islam, tapi juga oleh agama lainnya. Dalam agama Kristen, Allah sudah membuat perintah yang isinya "Janganlah bersaksi dusta terhadap sesamamu manusia." Bila disederhanakan, maksudnya jgn memfitnah.
Namun realitas yang terjadi saat ini adalah maraknya informasi yang terkesan berbau fitnah. Sebut saja isu tentang Jokowi yang ibunya dikatakan non muslim padahal ibu dari capres ini sudah naik haji. Ada juga isu soal Prabowo yang disebut2 otak penculikan aktivis padahal belum terbukti secara hukum, semua masih asumsi. Prabowo pun disebut sudah tidak punya alat kelamin lagi karena telah dikerjai kelompok frentilis saat tugas di Timtim.
Saya berpikir apakah politik itu tidak akan ramai bila tidak dibumbui fitnah? Politik pada dasarnya seni untuk mencapai kesejahteraan bersama (bangsa). Bila memang masih tetap pada tujuan tersebut, seyogyanya tidak perlu ada fitnah memfitnah. Cukup melihat masa lalu calon dan juga melihat programnya. Tidak perlu menghujat si A dan di sisi lain mendewakan si B.
Satu hal lagi, sejak perjuangan merebut dan mempertahankan, sudah kesepakatan bersama bahwa pluralisme adalah kekayaan yang harus dijaga dan dipertahankan. Tapi realitanya, isu SARA masih juga jadi jualan politisi dan pendukung fanatik calon. Prabowo disebut akan disetir adiknya yang beragama Kristen, dan Jokowi disebut2 anti islam. Yang terjadi akhirnya adalah penyebaran fitnah lagi.
Kembali ke soal agama, semua agama meyakini akan adanya akhirat, percaya pada adanya kematian, dan percaya akan adanya surga dan neraka. Lantas, dengan kondisi bahwa bangsa ini adalah bangsa yang percaya pada Tuhan, masih relevankah kita menjadi agen penyebar fitnah? Sebaiknya kita berpikir lagi tentang masa setelah kematian dan pemuka agama juga fokus memberikan pencerahan kepada umatnya, tidak perlu turun terlalu jauh mengkampanyekan calon tertentu. (*)
Ya, ini sudah pernah saya pelajari dan teman ini kembali mengingatkan saya. Soal fitnah ini, sebenanrnya bukan hanya dilarang dalam agama Islam, tapi juga oleh agama lainnya. Dalam agama Kristen, Allah sudah membuat perintah yang isinya "Janganlah bersaksi dusta terhadap sesamamu manusia." Bila disederhanakan, maksudnya jgn memfitnah.
Namun realitas yang terjadi saat ini adalah maraknya informasi yang terkesan berbau fitnah. Sebut saja isu tentang Jokowi yang ibunya dikatakan non muslim padahal ibu dari capres ini sudah naik haji. Ada juga isu soal Prabowo yang disebut2 otak penculikan aktivis padahal belum terbukti secara hukum, semua masih asumsi. Prabowo pun disebut sudah tidak punya alat kelamin lagi karena telah dikerjai kelompok frentilis saat tugas di Timtim.
Saya berpikir apakah politik itu tidak akan ramai bila tidak dibumbui fitnah? Politik pada dasarnya seni untuk mencapai kesejahteraan bersama (bangsa). Bila memang masih tetap pada tujuan tersebut, seyogyanya tidak perlu ada fitnah memfitnah. Cukup melihat masa lalu calon dan juga melihat programnya. Tidak perlu menghujat si A dan di sisi lain mendewakan si B.
Satu hal lagi, sejak perjuangan merebut dan mempertahankan, sudah kesepakatan bersama bahwa pluralisme adalah kekayaan yang harus dijaga dan dipertahankan. Tapi realitanya, isu SARA masih juga jadi jualan politisi dan pendukung fanatik calon. Prabowo disebut akan disetir adiknya yang beragama Kristen, dan Jokowi disebut2 anti islam. Yang terjadi akhirnya adalah penyebaran fitnah lagi.
Kembali ke soal agama, semua agama meyakini akan adanya akhirat, percaya pada adanya kematian, dan percaya akan adanya surga dan neraka. Lantas, dengan kondisi bahwa bangsa ini adalah bangsa yang percaya pada Tuhan, masih relevankah kita menjadi agen penyebar fitnah? Sebaiknya kita berpikir lagi tentang masa setelah kematian dan pemuka agama juga fokus memberikan pencerahan kepada umatnya, tidak perlu turun terlalu jauh mengkampanyekan calon tertentu. (*)

Komentar
Posting Komentar