Jokowi Vs Prabowo: Buang Fanatismemu, Kawan!

DUA orang sahabat diskusi berdebat panjang tentang dua sosok calon presiden yang bakal bertarung di Pilpres 2014: Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto (Prabowo). Satu orang pro Jokowi dan satu lagi pro Prabowo. Mereka sahabat lama yang memang telah sering diskusi dengan masalah sosial dan politik.

Perdebatannya panjang lebar dan bahkan terlalu melebar. Masing-masing mengagungkan kehebatan idolanya, dan tentu saja tak lupa melakukan serangan dengan mengungkap sejumlah kelemahan lawannya. Mereka menggunakan referensi pemberitaan di media massa dan dibumbui desas-desus alias gosip.

Pendukung Jokowi menyebut yang pantas memimpin Indonesia saat ini adalah Jokowi. Ia mengemukakan banyak alasan, diantaranya kemampuan Jokowi merelokasi ribuan warga yang telah mendiami sejumlah bantaran sungai di Jakarta ke rumah susun yang layak huni. Dia melakukan revitalisasi sejumlah waduk.

Tak hanya itu, ia juga menyebut selama menjadi Wali Kota Solo, Jokowi telah mampu membangun pasar tradisonal sebagai pilihan utama masyarakat dan menekan pertumbuhan mal. Pedagang kaki lima ditata Jokowi dengan baik, dipindahkan ke tempat yang layak, bukan ditelantarkan seperti kebanyakan kasus di kota-kota besar di Indonesia.

Kedekatan Jokowi dengan masyarakat tak lupa disampaikannya. Ia menyebut Jokowi sebagai sosok yang merakyat, tidak sungkan makan di warteg, dan mau berbicara dengan masyarakat dari jarak dekat, tanpa ada sekat, tanpa ada batas, tanpa harus ikut tata protokol kenegaraan. Jokowi juga disebut membuat sebuah terobosan dengan melakukan lelang jabatan di DKI Jakarta. Masih banyak lagi alasan yang dikemukakannya.

Sementara sahabatnya yang menjadi pengagum Prabowo menyebut bahwa Prabowo merupakan sosok yang tegas, menolak intervensi asing, dan telah terbukti membela NKRI, salah satunya lewat operasi militer di Timtim.

Ketegasan Prabowo disebutnya tidak diragukan lagi, sebab ia adalah sosok militer dengan karir yang cemerlang. Dia pun mengatakan Prabowo merupakan sosok dari keluarga cendekiawan, sebab ayahnya merupakan seorang ekonom Tanah Air yang sangat terkenal di masa orde baru. Soemitro, ayah Prabowo adalah seorang pendiri sebuah bank besar di Indonesia.

Tak hanya itu, Prabowo pun merupakan sosok yang dikagumi oleh muslim Indonesia. Itu terbukti dari merapatnya partai-partai berbasis Islam ke Prabowo minum PKB. Sosok Prabowo diibaratkan sebagai kekuatan baru yang bis membawa Indonesia menjadi leader di Asia, dan mengangkat harkat dan derajat bangsa.

"Tapi ingat, Prabowo itu masih punya utang. Dia belum juga hadir atas panggilan Komnas HAM atas penculikan yang dia lakukan terhadap aktivis. Kasusnya belum selesai, sekarang berkasnya sudah di kejaksaan. Dia mangkir waktu dipanggil," ucap pendukung Jokowi itu.


Tak ingin jagoannya diserang, pendukung Prabowo menyebut juga kelemahan Jokowi. "Jokowi itu anak baru kemarin sore. Tidak ada prestasinya. Mobil Esemka yang digadang-gadangnya tidak jelas sampai sekarang. Dia hanya menang di pencitraan saja karena menjadi media darling. Dia antek Amerika," ujarnya.

Perdebatan semakin panjang dan memanas. Mereka berdua menjadi lupa esensi sebuah diskusi adalah untuk mencapai sebuah titik temu, mencapai sebuah persepsi yang bisa dipegang bersama-sama. Perdebatan dua intelektual muda itu sudah tidak lebih dari perdebatan di warung kopi.

Usai berdebat, pendukung Jokowi menemui sahabatnya yang lain, yang punya jagoan yang sama dengan dia. Dia mengatakan bahwa temannya yang baru saja berdebat itu sudah tidak normal lagi otaknya. "Mantan aktivis mahasiswa tapi kok dukung Prabowo? Dimana otaknya? Dia tidak ingat lagi teman-teman yang diculik tahun 98?" ucapnya.

Hal yang sama juga dilakukan pendukung Prabowo tersebut. Kepada temannya yang seidola dengannya, dia berujar bahwa temannya yang dulu satu perjuangan dengannya itu telah terprovokasi media massa. "Yang didukung kok orang kampung yang masalah Jakarta saja sampai sekarang belum bisa dituntaskannya? Jakarta belum tuntas sudah sok-sokan mengurus Indonesia. Dimana logikanya?" ucapnya.

Perdebatan panjang itu rupanya membuat sebuah luka gores di hati masing-masing. Saat berpapasan di sebuah tempat, keakraban mereka mulai berkurang. Hanya ada say hallo, bukan rasa kekeluargaan seperti yang mereka jalani selama ini. (Suang Sitanggang)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik