Ketika Kofifah Memberi Rokok Kepada Orang Rimba
MENINGGALNYA belasan Orang Rimba (Suku Anak Dalam) di Provinsi Jambi menjadi perhatian pemerintah pusat. Tidak tanggung-tanggung, Menteri Sosial Kofifah Indar Parawasa datang ke Bumi Sepucuk Jambi sembilan Lurah karena berita yang heboh di media lokal dan nasional itu.
Kedatangannya kali ini membuat saya secara pribadi melihat suatu hal yang positif. Kaum marginal seperti orang rimba, ternyata sudah mulai mendapat tempat di negara ini. Mereka bukan lagi dianggap 'sampah' yang musti dihilangkan atau dimusnahkan atau dilokalisir. Di mata pemerintah pusat, setidaknya di mata seorang pejabat sekelas Menteri Sosial, orang rimba sudah diangap sebagai warga negera,pemilik sah negeri ini.
Namun apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan saya. Kofifah yang saat datang menjumpai orang rimba kelompok Tumenggng Marituha membawa rokok dan memberikan rokok itu kepada orang rimba, mendapat kecaman dari berbagai pihak. Terutama YLKI. Kofifah dianggap telah mengajarkan sesuatu yang tidak baik terhadap orang rimba.
Beberapa saat saya mengernyitkan kening kala membaca sejumlah kecaman dan kritikan terhadap ibu menteri. Beberpa saat kemudian saya hanya bisa tersenyum sekaligus prihatin. Keprihatinan saya bukan atas ulah menteri yang memberikan rokok, tapi ulah orang-orang yang mengkritik Kofifah. Orang-orang yang mengkritik menteri ini saya yakin orang yang hidupnya bagikan katak di dalam tempurung.
YLKI dalam hal ini, mungkin tidak mengerti seluk beluk budaya orang rimba dan melayu Jambi. Dia tidak tahu arti dan makna pemberian rokok. Dalam tradiis Melayu Jambi, pemberian rokok adalah tanda kedatangan dengan niat baik, dengan rasa persaudaraan, hingga muncul seloko yang berbunyi "sirih nan sekapur, rokok nan sabatang".
Saya justru memandang Kofifah datang dengan sebuah niat yang baik, hingga merelakan diri untuk memberikan rokok kepada orang rimba. Mungkin saja pemberian rokok ini bertentangan dengan nurani seorang Kofifah, namun demi menghargai adat istiadat setempat, dia memaksakan diri untuk memberikan rokok kepada orang rimba. Kofifah memahami betul ajaran nenek moyang kita, "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung".
Pengalaman saya beberapa kali menjumpai orang rimba, hal ini juga yang saya lakukan. Saat masuk ke "perkampungan" mereka, saya siapkan beberapa bungkus rokok. Biasanya saya membeli yang harganya murah. Saya menawarkan rokok kepada mereka bukan semata-mata karena saya seorang perokok, namun karena saya mengerti, ketika mereka menerima rokok pemberian saya, mereka tidak akan ragu-ragu lagi untuk bercerita dan bercengkerama dengan saya.
Dalam konteks ini, kita sedang belajar bagaimana mengkritik seseorang. Kita tidak boleh hanya mengacu pada aturan yang dibuat oleh negara, yang diterbitkan dalam peraturan pemerintah, tapi harus memperhatikan norma-norma yang sudah hidup dan berkembang dalam masyarakat. Saya hanya bisa tertawa sekaligus sedih bila masih saja pengkritik Kofifah memaksa kofifah untuk minta maaf atas kelakuannya di Jambi, yang memberikan rokok kepada orang rimba. Mungkin ada baiknya mereka-mereka itu melepaskan kacamata kuda yang dipakainya selama ini. (*)
Komentar
Posting Komentar