Cintailah Rupiah Seperti Kamu Mencintai Pacarmu

BANGGA - Seorang ibu menunjukkan senyum bangga setelah menukar uangnya dengan pecahan rupiah tahun emisi 2016.
(foto: suang sitanggang)

Apakah kita sudah benar-benar cinta Rupiah? Sebesar apa cinta kita pada mata uang negara kita? Jangan-jangan cinta kita pada Rupiah masih sebatas cinta monyet. 

KITA pasti sepakat bahwa cinta itu bukanlah sebatas kata-kata, cinta itu adalah perbuatan nyata. Sama juga dengan cinta Rupiah, tak bisa cuma menyebut “aku cinta Rupiah” tapi harus ada bentuk nyata cinta itu.

Dua yang lalu yaitu akhir November 2017, saya belanja di sebuah minimarket di Kota Jambi, kota tempat saya kini berada. Saya belanja berbagai jenis barang kebutuhan pribadi. Setelah puas memilih yang sesuai, barang-barang itu saya bawa ke depan kasir.

Saya lihat wajah kasir perempuan ini cukup cantik. Dia menyambut dengan senyuman yang begitu indah saat barang-barang itu saya berikan kepadanya untuk dihitung total belanjaan saya.

Satu per satu barang tersebut dia keluarkan dari dalam keranjang belanjaan kemudian dimasukkan ke plastik putih setelah menginput harganya ke komputer kasir. “Totalnya Rp 63.700,” katanya. Saya lihat nilai yang disebutkannya sama dengan yang ada di komputer.

Saya keluarkan selembar uang pecahan Rp 100.000, yang baru beberapa jam sebelumnya saya tarik dari ATM. Uang itu masih sangat licin. Rasanya sayang melepaskannya, tapi demi membayar barang belanjaan, harus dikeluarkan juga.

Kasir itu lalu memberikan kembalian Rp 36.000. “Kok korang Rp 300?” tanyaku dalam hati, sebab saya harusnya diberikan kembalian Rp 36.300. Sebelum saya bertanya langsung padanya, kasir itu meminta saya mengambil permen di meja kasir. “Sisa Rp 300 ganti permen ya mas,” kata kasir. 

Aku lihat wajahnya, senyuman masih melekat di bibirnya. Aduhai, alangkah cantiknya, pikirku dalam hati. Tapi keindahan senyumnya diruntuhkan prinsipku untuk tidak pernah mau mengganti uang kembalian belanja dengan permen, walau itu cuma Rp 100. Ini bukan pelit, tapi ini soal prinsip hidup.

“Maaf Mbak, saya minta dalam bentuk uang saja, saya tidak suka permen, dan saya tidak mau uang kembalian diganti permen,” jawab saya padanya. Saya ucapkan kata-kata itu juga sembari senyum padanya. Saya tidak tahu apakah senyuman saya bisa mengimbangi keindahan senyumnya.

Akhirnya kasir itu membuka laci di bawah monitor komputernya. Dia memberikan satu keping uang pecahan Rp 100 dan satu keping lagi pecahan Rp 200. “Terimakasih mbak yang cantik,” kataku saat menerima uang itu dari tangannya. Hatiku sungguh puas saat mampu memberinya pelajaran cinta.

Kondisi seperti ini bukan sekali saja saya hadapi, dan bukan saja di Kota Jambi ini. Saya sudah cukup sering ditawari permen untuk mengganti kembalian uang pecahan kecil. Bagi saya, menerima permen sebagai pengganti pecahan uang kecil adalah penghinaan kepada mata uang negara kita.

Sekecil apapun pecahan uang itu, semuanya memiliki kedudukan yang sama, yaitu sama-sama lambang kedaulutan negara ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya selalu bangga saat ditawari permen sebagai pengganti pecahan kecil, sebab dengan cara seperti itu saya mengajari mereka mencintai Rupiah. Saya suka mengatakan, “Rp 100 juga uang lho, bukan permen. Janganlah samakan uang Rupiah dengan permen.”

Selain persoalan mengganti uang kembalian dengan permen atau produk lainnya, saya juga kerap mendapati kondisi uang yang dalam keadaan kusam, tercoret, koyak, dan terlipat-lipat. Memang sih saat dibelanjakan tetap laku. Tapi apakah harus demikian kita memperlakukannya?

Padahal pada semua mata uang Rupiah tahun emisi 2016, ada gambar pahlawan kita. Pahlawan itu orang-orang yang sudah berjuang memerdekakan negara ini, mengusir penjajah, menyerahkan nyawa untuk kemerdekaan. Tapi entah mengapa, begitu banyaknya warga negara yang begitu tega pada orang-orang yang berjasa besar kepadanya, yang telah menghadiahkan kemerdekaan.

Di sisi lain, mata uang asing yang mereka miliki, disayang-sayang, dielus-elus, diperlakukan bagai pacaranya. Dibuat sangat rapi di dalam dompet atau di tempat penyimpanan lainnya. Mengapa tak memperlakukan demikian juga dengan Rupiah? Mata uang ini adalah bentuk kedaulatan kita.

Hendaklah kita bersyukur memiliki mata uang sendiri, dengan gambar pahlawan di dalamnya. Kalau bukan kita yang mensyukuri dan menghargainya, siapa lagi? (suang sitanggang)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik