Perjuangan Membumikan Gas Bumi Berbuah Senyum Bahagia

APLIKASI - Hesti menunjukkan tampilan layar awal aplikasi PGN mobile, yang bisa didownload di plyastore.
(foto: suang sitanggang)

Hesti terlihat serius mengamati sembari mengusap-usap smartphone yang ada di genggaman tangan kirinya. Di samping kanannya duduk ibundanya, yang tengah asyik menonton acara hiburan, yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta, Sabtu (11/11/2017).

MAHASISWI di perguruan tinggi negeri tersebut kemudian menunjukkan tampilan di layar smartphone kepada perempuan yang telah melahirkannya itu. Hesti ternyata memperlihatkan jumlah tagihan penggunaan gas bumi di rumah itu, yang dia cek melalui situs e-commerce berjenis marketplace.

“Tidak sampai Rp 60 ribu,” kata Hesti sembari tersenyum. Ibunya mengangguk, sekilas melihat angka yang tertera di tampilan layar smartphone putrinya, kemudian mengalihkan pandangannya ke layar kaca. Ibunda Hesti sepertinya tidak ingin ketinggalan acara favoritnya di sore hari itu.

Keluarga Hesti, merupakan satu di antara ribuan pelanggan jaringan gas (Jargas) rumah tangga di Kota Jambi, Provinsi Jambi. Tempat tinggalnya yang terletak di Kelurahan Handil Jaya, Kecamatan Jelutung, sudah sekitar dua tahun dialiri jaringan gas bumi.

Kelurahan Handil Jaya masuk dalam daftar areal yang pertama kali mendapat aliran pipa gas bumi, bersama Kelurahan The Hok Kecamatan Jambi Selatan. Jargas di Kota Jambi diresmikan pada Rabu, 22 April 2015. Peresmiannya dilakukan oleh Sudirman Said, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat itu.

Hesti mengatakan sangat bersyukur bisa menikmati gas bumi. Hal itu tak terlepas dari banyaknya keuntungan yang didapatkan keluarganya, termasuk dirinya sendiri, setelah beralih dari LPG ke gas bumi. Keuntungan yang diperoleh tidak saja berupa keuntungan material, tapi juga immaterial.

Dijelaskannya, keuntungan material tersebut adalah lebih hemat dari sisi biaya. Tagihan mereka tiap bulan hanya sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu. Pengeluarannya lebih irit dibandingkan pada saat masih menggunakan LPG 12 kilogram.

Satu tabung LPG isi 12 kilogram, habis digunakan keluarga ini dalam satu bulan, paling lama satu setengah bulan. “Harganya di pasaran saat itu sudah sekitar Rp 140 ribu,” ucap Hesti.

Keuntungan lain yang dia rasakan adalah kepuasan dari sisi kepraktisan. Sejak dialiri gas bumi hingga saat ini, belum pernah ada gangguan yang berarti. Gas selalu siap sedia saat dibutuhkan. Tidak ada cerita lagi dalam kamusnya gas habis saat sedang memasak.

Perempuan 21 tahun itu menyebut, kondisinya sangat berbeda saat masih menggunakan gas yang berasal dari tabung LGP. “Paling tidak senang pakai LPG itu karena kita harus isi ulang. Kalau sudah habis gas, rasanya malas bawa-bawa tabung ke agen. Kalau gas bumi ini sangat praktis,” terangnya.

Namun di balik kepuasan yang sudah dirasakannya saat ini, ada perjuangan berat yang harus dia lakukan sebelumnya. Perjuangan itu adalah meyakinkan orangtuanya agar rumah mereka dialiri gas bumi. Saat ada program yang kala itu disebut dengan nama ‘city gas’ orangtuanya sempat menolak.

INSTALASI: Petugas memasang instalasi gas ruma tangga
Penolakan itu karena kekhawatiran terhadap keamanan mereka. “Orangtua saya takut nanti pipa gas itu bocor, kemudian terbakar rumah ini. Saya yang akhirnya meyakinkan orangtua bahwa gas bumi aman. Saat sosialisasi sebenarnya sudah dijelaskan, tapi orangtua tidak langsung percaya,” tuturnya.

Hesti sudah menjelajahi internet mencari informasi terkait gas bumi sebelum dirinya meyakinkan kedua orangtuanya. Setelah dia yakin bahwa gas bumi yang disalurkan benar-benar aman, barulah dia berusaha meyakinkan orangtuanya, agar mau ikut dalam program city gas.

“Kita harus maklumi pemikiran orangtua kita, tidak sama dengan generasi kita yang dengan mudah dapatkan informasi. Makanya saya benar-benar mencoba memahami dulu baik buruknya pakai gas bumi. Itulah yang saya sampaikan ke orangtua saya. Saya senang mereka akhirnya setuju,” tuturnya.

Diungkapkannya, berdasarkan hasil penjelajahannya di internet, yang turut membuatnya berjuang meyakinkan orangtuanya mau dipasang jaringan gas adalah karena gas bumi merupakan produksi dalam negeri. Berbeda dengan LPG, dominan masih diimpor walau bahan baku dari dalam negeri. “Perbuatan kecil kita telah membantu ketahanan energi dalam negeri,” kata Hesti.

Siti Aminah, ibunda dari Hesti, menbenarkan cerita yang disampaikan putri tungganya itu. Dia bilang memang sempat khawatir menggunakan gas bumi, dan merasa sudah nyaman menggunakan LPG yang telah mereka gunakan belasan tahun.

Keluarganya merasakan keuntungan seperti yang diungkapkan Hesti saat meyakinkan mereka agar mau beralih. “Sekarang saya juga senang rumah ini pakai gas bumi. Lebih hemat, tidak repot lagi mencari LPG sambil angkat tabung sebesar itu,” ucap Siti Aminah.

Bagi Hesti, keuntungan terbaru yang dia dapatkan yang membuatnya merasa semakin nyaman pakai gas bumi, adalah metode pembayaran tagihan yang semakin praktis. Dia merasa gas bumi semakin membumi dengan generasi millennial, apalagi berkat hadirnya aplikasi PGN mobile di android.

“Cek nilai tagihan sampai membayarnya sekarang sudah bisa di handphone. Ada juga aplikasi PGN yang membuat kita bisa langsung tahu berapa penggunaan. Semuanya menjadi mudah, dan sangat melekat dengan kemajuan teknologi saat ini,” terangnya.

Pemerintah belakangan ini juga memang semakin giat membumikan gas bumi. Itu terlihat dari investasi besar yang digelontorkan baik oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk maupun  oleh Kemeterian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Grafis jumlah pengguna gas bumi di Indonesia
Kementerian ESDM pada tahun ini menyiapkan anggaran cukup besar untuk menghadirkan jaringan gas untuk sejumlah kota. Pembangunan jargas direncanakan 56 ribu sambungan gas rumah tangga, berada di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Pada tahun 2016, ada sambungan gas rumah tangga yang dibangun dari dana APBN untuk 89 ribu sambungan gas rumah tangga.

Upaya membumikan gas bumi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan negara di bidang energi. Untuk itu perlu bagi semua pihak saling mendukung, agar proses membumikan gas bumi, mengucurkan gas bumi ke rumah tangga, menjadikan gas bumi sebagai sumber energi pilihan utama, terealisasi dengan baik.


Ini juga menjadi pekerjaan rumah generasi millenial yang sudah lebih memahami informasi terkini, meyakinkan orang-orang di sekitarnya, terlebih keluarga terdekat, agar jangan sampai menolak kehadiran jargas di tempat masing-masing. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik