Dokter Fiera Lovita Diintimidasi, Tidak Ingin Lagi Tugas di Solok
| Konfrensi pers dr. Fiera Lovita (tengah) terkait ancaman yang dihadapinya akibat postingan di facebook. |
Fiera Lovita, seorang dokter di RSUD Kota Solok, Sumatera Barat, buka-bukaan usai mengalami persekusi berupa teror dan intimidasi sekelompok orang dari ormas tertentu. Kedua anaknya yang berumur 8 dan 9,5 tahun, mengalami trauma. Mereka takut dan enggan kembali pulang ke rumah.
"Anak saya merasa takut dan menangis. Takut pulang karena takut rumah diserbu," ujar Fiera saat memberikan keterangan pers di kantor YLBHI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (1/6).
Perempuan yang akrab disapa dokter Lola itu kerap mengalami teror dan intimidasi setelah mengungkapkan pendapatnya terkait kasus hukum seorang pimpinan organisasi kemasyarakatan di Jakarta. Dia menulis pendapatnya melalui status di akun Facebook pribadinya.
Pada 19-21 Mei 2017, Fiera membuat tiga status Facebook. Status tersebut dia buat setelah menyaksikan berita konferensi pers pihak kepolisian di televisi terkait kebenaran barang bukti kasus chat berkonten pornografi yang melibatkan Firza Husein dan Rizieq Shihab.
Dia mengaku tidak paham kenapa dirinya mengalami tindakan Persekusi setelah menulis status tersebut. "Saya hanya menanggapi berita kaburnya seorang tokoh yang akan diminta keterangan oleh polisi di Jakarta dalam kasus chat mesum dan kasus hukum lain yang menimpa tokoh tersebut," tutur Fiera.
"Saya hanya mengemukakan pendapat saya seperti yang dilakukan oleh netizen lain," kata dia.
Fiera mengaku, ada kelompok ormas yang tidak suka kata-kata Fiera di status Facebooknya. Pada 22 Mei 2017, sekitar pukul 13.00 waktu setempat, beberapa orang mendatangi Fiera.
Saat itu, dia sedang berada di dalam mobil bersama anak-anaknya. Mereka mengetuk-ngetuk jendela mobil Fiera. Karena ketakutan, Fiera menghubungi Kanit intel polisi kota Solok bernama Ridwan. Ridwan sebelumnya telah meminta keterangan Fiera terkait status Facebooknya tanpa menunjukkan surat tugas.
Setelah tiba, Ridwan berbicara dengan perwakilan dari orang-orang yang mengaku anggota salah satu ormas keagamaan. Saat itu, kata Fiera, anak-anaknya menangis karena ketakutan. Mereka juga takut saat melihat Ridwan membawa pistol kecil, diselipkan di pinggang belakangnya.
"Anggota ormas itu menyuruh saya minta maaf dan berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi. Kemudian meminta saya membuat surat pernyataan dengan tulisan tangan di atas kertas dan difoto. Mereka meminta saya secepatnya mem-posting surat pernyataan permintaan maaf tersebut di akun Facebook milik saya," ucapnya.
Pada pertemuan tersebut, Fiera diminta menyampaikan permintaan maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dia juga diminta membuat surat pernyataan maaf dan ditandatangani oleh Fiera serta beberapa orang yang hadir dalam pertemuan tersebut.
"Saya pikir dengan pertemuan tersebut semua masalah akan selesai, ternyata tidak sama sekali. Foto-foto pertemuan tersebut kembali menjadi viral di media sosial, mereka terus membicarakan dan menggunjingkan saya," tuturnya.
Pertemuan yang seharusnya menyelesaikan masalah dan membuat suasana menjadi damai, ternyata bagi ormas itu dianggap tidak cukup. Foto-foto pertemuan disebar melalui media sosial dengan kata-kata yang provokatif. Dia dituduh menghina ulama dan agama Islam.
Sejak saat itu, teror dan intimidasi kerap diterima oleh Fiera. Rumahnya sering didatangi oleh orang-orang tak dikenal dan minta untuk bertemu.
Atas pertimbangan keselamatan jiwa anak-anak dan dirinya, Fiera memutuskan untuk pergi dari Solok untuk sementara waktu. Dia merasa tidak ada pihak yang mampu melindungi. Fiera mengaku tidak mendapat dukungan nyata dari teman sejawat atau pun pihak lain yang berada di sekitarnya. Bahkan beberapa rekan di kantornya memilih aman dengan menjauhi Fiera.
"Saya memutuskan untuk berkeinginan keluar dari Kota Solok, Sumatera Barat ini. Saya tidak mempunyai pilihan lain lagi," ujar Fiera. "Tidak ada pihak yang akan melindungi saya di sana, ditambah suasana di lingkungan pekerjaan yang sudah tidak nyaman lagi," kata dia. (kps/thf)
Komentar
Posting Komentar