Pilkada Muarojambi, Antara Janji dan Harapan



Kondisi di Desa Nyogan, yang menghubungkan Kota Jambi dengan Sungai Bahar, 28-12-2016. (Foto: Suang Sitanggang)
PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) selalu menjadi arena menabur janji, yang dilakukan oleh pasangan calon. Kata-kata indah dirangkai menjadi kalimat-kalimat berisi janji politik, yang bertujuan menarik hari calon pemilih. Termasuk di Pilkada Muarojambi, di masa kampanye ini juga menjadi arena menabur janji.

Pada debat kandidat yang diadakan KPU Muarojambi, Senin (16/1) malam, semua pasangan calon telah mengeluarkan jurus-jurus jitu. Mereka menyampaikan visi misi yang begitu indah. Semua hampir sama, yakni sama-sama memberi harapan indah kepada masyarakat, akan Muarojambi yang lebih baik di masa depan.

Kandidat paham betul apa yang dibutuhkan masyarakat, yakni infrastruktur jalan yang bagus. Jalan menjadi bagian penting untuk membuat harga komoditi utama yakni karet dan sawit jadi memiliki harga yang lebih baik. Tanpa jalan yang bagus, komoditi akan sangat sulit dikeluarkan.

Janji politik dan harapan yang disampaikan oleh para kandidat, bisa jadi membuat masyarakat jadi bingung memilih siapa. Semua menawarkan perbaikan, semua memberikan harapan. Jadi siapa yang layak dipilih?

Pilkada kali ini pada dasarnya jadi kesempatan besar bagi masyarakat Muarojambi untuk bisa mendapatkan hak-hak yang lebih baik di masa mendatang. Hak untuk lebih sejahtera, hal untuk mengakses pendidikan yang lebih baik, hak melintasi jalan yang layak, dan yang lainnya.

Untuk itu masyarakat hendaknya di pilkada ini tak sekadar melihat dari visi misinya saja. Lebih dari itu, hendaknya lebih cermat dalam melihat latar belakang kandidat. Artinya, harus lebih mengenal calon tersebut, agar bisa memilih yang diyakini mampu menerjemahkan visi misi yang indah itu saat terpilih kelak.

Debat kandidat yang dilakukan tadi malam, kiranya bisa memberi gambaran yang lebih baik bagi masyarakat soal kandidat yang akan dipilihnya. Debat ini kiranya tak sekadar adu argumen, tapi juga menjadi bahan untuk masyarakat lebih mengenal lagi kepribadian dan kecerdasan mereka.

Kita membutuhkan pemimpin yang tulus, cerdas, bermasyarakat, dan berjiwa melayani. Apalah artinya pemimpin cerdas tapi hatinya tak tulus untuk rakyat. Masih ada waktu satu bulan lagi untuk masyarakat yang ingin lebih mengenal siapa yang akan dipilih.(*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik