Sudah Kumaafkan Status Facebook Yang Keji Itu

Inilah satu di antara postingan yang ada di fanpage Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA, DPMSS

SELASA (6/12) pagi, aku terkejut saat melihat postingan di facebook dengan nama akun fanpage Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA, DPMSS. Saya tidak tahu pasti apakah itu akun milik Habib Rizieq yang sangat dihormati itu, atau orang yang mengaku-ngaku.

Di akun itu dituliskan: Fanpage Resmi Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA, DPMSS - Imam Besar Front Pembela Islam. Aku lihat ada 242.187 yang suka (like) fanpage tersebut. Delapan orang di antaranya temanku.

Keterkejutanku terjadi saat aku melihat isi yang ada di sana. Awalnya biasa-biasa saja. Tapi saat terus aku scroll ke bawah, muncul postingan gambar yang tidak biasa. Ada nama perusahaan tempatku bernaung yang sedang dibicarakannya.

"KOMPAS, Media Spesialis LIPUTAN SAMPAH atau memang MEDIA SAMPAH???" itulah kalimat yang jadi semacam penjelasan atau caption atas gambar yang dia posting. Namun saat aku coba buka link yang dituliskan di sana, yang muncul di web ternyata hanya gambar itu juga. Tidak ada ulasan yang dibuatnya atas meme tersebut.

Bagiku, postingan ini cukup keji. Betapa mudahnya penulis status dan pengedit gambar itu mengatakan KOMPAS sebagai media sampah yang dibumbui tanda tanya. Jelas-jelas status itu seperti bertujuan untuk menghasut kebencian terhadap KOMPAS.

Bagi orang yang sudah berpendidikan, harusnya akan mengerti bagaimana media massa itu bekerja. Media massa tidak akan berpihak kepada golongan atau kelompok tertentu.

Harapan agar media mendukung penuh aksi-aksi dari golongan tertentu tentu saja tidak akan mungkin diakomodir oleh media sekelas KOMPAS. Pijakannya tetap satu, Fakta dan Kemanusiaan.

Saya menyadari, mungkin karena KOMPAS berani memberitakan sesuatu yang tidak dikehendaki  yang membuat KOMPAS dan grupnya menjadi dianggap sebagai musuh. KOMPAS tidak hanya berani memberitakan yang baik, tapi juga berani memberitakan yang bersifat kritik, namun tetap dalam porsi yang konstruktif. Hanya saja sepertinya masih banyak pihak yang tidak siap untuk dikritik.

Walau gambar meme itu terasa tidak menyenangkan, tapi tak ada niat dalam diri ini untuk membuat meme tandingan. Biarlah, sekalipun itu keji, sekalipun itu fitnah, hal terbaik yang bisa dilakukan manusia adalah memaafkan. Semua orang bisa minta maaf, tapi tidak semua orang sanggup memaafkan. (*)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik