Nestapa Jurnalis, Menerima Sanjungan dan Hujatan
![]() |
| Foto: Suci Rahayu, Location: Tribun Jambi Office |
BEBERAPA hari lagi genap tujuh tahun berkiprah di dunia
jurnalistik. Saya sudah tidak tahu lagi berapa ribu berita yang sudah kuketik,
dan berapa ribu orang yang pernah aku wawancarai.
Aku juga tak tahu lagi berapa ribu berita yang kuedit,
berapa ribu berita yang kutayangkan di media cetak dan online. Bagiku jumlah
itu bukan lagi sebuah yang penting. Aku hanya pernah menghitung jumlah karya
jurnalistikku yang terbit saat sebulan pertama menjadi jurnalis.
Menjalani hidup sebagai jurnalis membuatku paham arti
kehidupan, dan mengerti nilai kemanusiaan yang sesungguhnya. Saya juga menjadi
mengerti akan karakter manusia, dan belajar banyak tentang arti hidup dan
kehiduoan.
Aku juga menjadi mengerti sedikit tentang Indonesia, negeri
yang aku cintai. Saya berjalan ke sana ke mari, mencari informasi secuil demi
secuil, yang ditujukan untuk semua manusia. Ada cerita baik dalam perjalanan,
dan tidak sedikit juga cerita yang menyedihkan saat menjalani. Tapi itulah
hidup.
Perjalanan ini membuatku mendapatkan banyak keluarga. Aku
menganggap mereka sebagai kakak, atau abang, atau adik, bahkan orangtua. Apakah
mereka juga begitu, entahlah. Tapi setahuku, ada di antara mereka yang telah
menjadikanku sebagai saudara, melebih rasa persaudaraanku untuknya.
Namun yang pasti, menjadi jurnalis bukanlah untuk mencari
saudara, dan bahkan bukan untuk bisa mendapatkan kekayaan. Tak pula supaya
tersohor. Untuk apa? Untuk kehidupan, untuk manusia.
Kehidupan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh karya
jurnalistik yang terbit di berbagai media, baik cetak, online, tv, dan radio.
Karya jurnalistik tersebut menjadi referensi sebagian orang, baik untuk
kebijakan (bagi pemerintah/pengusaha), akademisi, masyarakat, dan pihak-pihak
lainnya.
Pada dasarnya, pekerjaan jurnalistik adalah mengungkapkan
fakta apa adanya. Pada perjalanannya, pengungkapan fakta-fakta ini sering tidak
menyenangkan bagi banyak orang. Mereka merasa fakta yang dihadirkan dalam
berita membuat posisinya terancam, atau bahkan dianggap membuat wajah atau
seluruh tubuhnya menjadi tercoreng.
Bagi sebagian orang (pembaca/pendengar/penonton), dihadirkannya
fakta-fakta tersebut, misalkan saja kasus korupsi, bagaikan oase di padang
pasir. Mereka berharap adanya perubahan, berharap akan terciptanya sebuah
tatanan yang lebih baik. Namun bagaimana dengan mereka yang terlibat.
Caci maki dan sumpah serapah dilontarkan bagi jurnalis yang
memberitakannya. Entah itu diungkap langsung di hadapan jurnalis itu, atau
diungkapkan di belakang sang jurnalis tersebut. Jurnalis jadi dianggap musuh,
dianggap sebagai orang yang tidak perlu ditemani.
Belum lagi ketika sudah masuk dalam pemberitaan politik.
Terbaru tentang Ahok. Media A misalnya, saat memberitakan keberhasilannya
dianggap sebagai media bayaran.
Namun saat media A tersebut di waktu lain
memberitakan yang jelek dari Ahok, misa saat tersangka, langsung dishare ke
mana-mana, oleh orang-orang yang awalnya menyebut media tersebut sebagai media
bayaran.
Inilah nestapa jadi jurnalis. Betapa kami disanjung, betapa
kami juga dihujat. Betapa karya jurnalistik, dibutuhkan, tapi di sisi lain
penulis karya itu juga dikucilkan. Kami hanya disanjung saat merasa
menguntungkan pihaknya, lalu dihujat saat dirasa berseberangan dengannya. Kami
Bukan Nabi. (*)

Komentar
Posting Komentar