Intan Olivia, Usaplah Mata Hati Indonesia
![]() |
| Intan Olivia Marbun (Foto: Facebook ) |
14 jam Intan merasakan panasnya luka bakar akibat bom molotov, yang sengaja dilempar orang yang mungkin berpikir bahwa dia sedang jihad. Intan tak sendiri, masih ada bocah-bocah lain yang juga jadi korban kebiadaban ini.
Saat bangun dan membaca di media sosial bahwa Intan sudah meninggal, tak terasa air mataku berair, dan nyaris tumpah. Aku berusaha menahan agar jangan sampai keluar dari sudut mataku. Ada kesedihan luar biasa yang mendadak aku rasakan.
Kesedihan itu semakin menjadi-jadi saat istriku datang menghampiriku. Dia juga bercerita anak kecil yang belum mengetahui apa-apa tentang negerinya itu telah meninggal. Kesedihan diungkapkannya, dan betapa berat suaranya menceritakan kematian anak itu. "Kok tega melukai anak kecil?" ungkapnya.
Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulutku. Kubiarkan dia menceritakan kesedihannya usai membaca berita yang didapatkannya dari media online. Aku tahu hati istriku. Aku diam bukan tidak ingin menanggapinya, hanya saja aku takut dia melihat kesedihanku yang mendalam.
Kami tidak pernah sebelumnya mengenal Intan Olivia Marbun. Foto anak kecil berdarah batak itu baru aku lihat setelah gereja tempatnya sekolah minggu. Di media sosial beredar luas foto cerianya yang menggendong tas, dan foto kondisinya setelah peristiwa pengeboman tersebut.
Hatiku semakin lusuh, tercabik-cabik, dan semakin sedih, tak kala membaca sejumlah postingan dari teman-teman di facebook, berisi kesedihan atas dipanggilnya Intan.
Banyak ungkapan-ungkapan yang begitu bisa menyentuh hati seorang kolerik sepertiku. Aku tahu mereka dari Hingga malam ungkapan kesedihan masih terus mengalir, membuat air mataku tak terasa mengalir juga, mungkin setetes dua tetes basahi batal ini.
Hati kecilku bersyukur Intan dipanggil Tuhan. Anak itu aku yakin terlalu kecil untuk menanggung rasa sakit yang tidak sepantasnya dipikulnya. Anak itu terlalu kecil untuk merasakan derita atas kekejian setan-setan berwajah manusia. Anak mungil itu tak seharusnya merasakannya.
Intan tidak pernah mengerti persoalan SARA yang kini sedang dipicu oleh kelompok tertentu di negeri ini. Dia hanyalah anak kecil yang setiap saat ingin bergembira, ingin disayang, ingin mendapatkan teman, ingin bermain. Ia belum tahu apa itu bom, belum mengerti apa itu terorisme.
Hati ini terus berkecamuk. Memikirkan apa yang akan terjadi lagi setelah ini. Melihat wajah-wajah anak-anak tak berdosa, rasanya ingin bisa melindungi mereka dari setan-setan berwajah manusia. Tak siap hati ini bisa melihat ada lagi Intan yang lain yang merasakan derita yang sama.
Rasa ketakutan menghampiri kala melihat anak kecil. Apakah cukup Intan korban terakhir dari kekejian ini. Apakah setan-setan berwajah manusia itu masih ingin lagi menumpahkan air mata orang-orang yang cinta damai di negeri ini. Entahlah. Kiranya Intan bisa mengusap hati Indonesia, menghentikan kebencian yang kian sering didengungkan di dunia maya. Juga berharap dan berdoa, Tuhan Lindungi Negeri Kami. (*)

Komentar
Posting Komentar