Derita Intan, Derita Negeri, Rintihan Dari Samarinda
INTAN Olivia Marbun, gadis kecil berusia 2,5 tahun itu, akhirnya
menghembuskan nafas terakhir. Ia telah dipanggil oleh Sang Kuasa,
setelah merasakan penderitaan luar bisa lebih dari dua belas jam. Gadis
mungil lugu ini jadi satu di antara korban ledakan bom di gereja
Oikumene, Samarinda.
Di ujung waktu kehidupannya, Intan tak lagi bisa merasakan pelukan
hangat ibunya yang bisanya akan memeluk tubuh kecilnya saat merasakan
kesedihan ataupun sakit. Luka bakar di tubuhnya itu sudah sekitar 70
persen. Sudah terlalu panas sekujur tubuhnya untuk dipeluk lagi oleh
perempuan yang sungguh-sungguh mencintainya itu. Hanya air mata ibunya
yang menemani kepergian Intan.
Inilah tragedi kemanusiaan itu. Intan dan beberapa temannya yang masih
kecil, yang di Minggu pagi itu sedang bergembira ria di halaman gereja,
menjadi korban kebiadaban pelaku teror. Anak-anak lugu itu sesungguhnya
belum mengerti apa yang sedang terjadi di negaranya. Mereka belum tahu
tentang pelbagai persoalan di republik ini, namun mereka yang jadi
korban.
Inilah tragedi kemanusiaan itu. Intan dan teman-temannya yang
sesungguhnya sedang diajari oleh orangtuanya untuk bisa lebih mengenal
Tuhan yang diyakininya, malah merasakan penderitaan tak terucapkan dari
sebuah aksi teror. Mereka tidak sedang mencela, tak pula mencelakai
orang lain, apalagi cari permusuhan. Mereka sedang bergembira, tapi
mendapat perlakuan mengerikan itu.
Teror itu sungguh keji. Tak peduli siapa yang akhirnya menjadi
korbannya. Orang-orang yang tak berdosa pun dikorbankan, demi kepuasan
dan keinginan kemenangan, versi mereka. Apakah bibir mereka tersenyum
melihat tubuh mungil itu terkoyak-koyak? Atau mungkin mereka mengangkat
tangan, berdiri, dan sambil berujar: kita berhasil!?
Situasi ini menunjukkan kepada kita, bahwa teroris masih eksis di
negeri ini, dan kini sedang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka
masih ada di negara yang pernah dijajah 350 tahun ini. Mereka bagai sel
kecil, hingga sulit dilihat, namun sengatannya sungguh melumpuhkan.
Lihatlah betapa hari ini banyak yang menangis melihat penderitaan Intan
Olivia Marbun.
Belum lagi air mata mengering, kita sudah mendapatkan kabar adanya
pengeboman pada sebuah vihara di Singkawang. Lagi-lagi molotov.
Beruntung tidak ada korban jiwa. Namun hal ini kembali menunjukkan
betapa teroris di negeri ini sungguh-sungguh ingin cari panggung. Betapa
mereka juga telah berhasil menciptakan kepanikan. Polisi di semua
daerah sampai-sampai diminta siaga.
Kita berharap peristiwa-peristiwa keji ini tidak terjadi lagi di negeri
ini. Kita berharap aparat bisa lebih sigap mengantisipasi aksi-aksi
terorisme. Dua peristiwa pengeboman berturut-turut ini agar bisa jadi
pelajaran untuk aparat keamanan, supaya bisa lebih membuat masyarakat
jadi nyaman. Tak terkecuali pada kita, bahwa inilah saatnya untuk bisa
lebih waspada, saling menjaga, dan juga saling mengingatkan. Pun
Provinsi Jambi, walau selama ini aman, perlu semakin waspada.
Semoga saja rintihan empat bocah di Samarinda, yang jadi korban
keganasan teroris, jadi rintihan yang terakhir di negeri ini, akibat
terorisme. Jangan sampai ada Intan-Intan yang lain yang nanti merasakan
yang sama. Tuhan telah membenamkan Intan di dada-Nya, hingga hilang perih
itu. (*)


Komentar
Posting Komentar