Demi Indonesia, Ahok Harus Jadi Tersangka



NASIB Ahok yang bakal jadi tersangka penistaan agama menjadi perbincangan saya dengan teman, sekaligus sahabat, juga sebagai guru saya di tempat saya bekerja. Awalnya kami tidak yakin bahwa Ahok, yang juga calon gubernur itu, bakal jadi tersangka. Namun, setelah melihat berbagai dampak yang mungkin timbul bila Ahok tidak tersangka, akhirnya kami meyakini Ahok akan jadi tersangka.

FOTO: TRIBUNNEWS/REPRO/KOMPASTV
Konteks pembicaraannya bukan pada apakah Ahok menistakan agama atau tidak. Biarlah ahli tafsir dan ahli hukum yang membicarakan itu. Persoalan yang terbesarnya adalah, stabilitas di republik ini. Apa yang akan terjadi bila Ahok kemudian tidak jadi tersangka? Kami meyakini gelombang aksi unjuk rasa akan semakin besar. Kondisi ini akan berpengaruh besar pada ekonomi, juga psikologis bangsa.

Demonstrasi besar-besaran berlabel perjuangan agama akan memunculkan rasa takut dan paranoid bagi kalangan-kalangan tertentu, terlebih pada kelompok-kelompok minoritas. Dari sisi ekonomi dan bisnis, bukan tidak mungkin rupiah terperosok akibat sentiment negatif dari para pelaku pasar. Bursa efek atau IHSG bakal sepi transaksi, sebab pelaku pasar tidak suka situasi gonjang-ganjing.

Apalagi air mata atas kasus bom di Samarinda yang telah menyebabkan hilangnya nyawa seorang anak kecil bernama Intan Olivia Marbun, belum hilang. Ada lagi rencana aksi demo besar-besara di 25 November. Saya secara pribadi akhirnya berkesimpulan, Ahok harus jadi tersangka. Hukum ada di tangan kanan, dan kebijakan ada di tangan kiri. Saya akhirnya yakin Polri akan pakai tangan kirinya.

Beberapa hari sebelum Ahok ditetapkan sebagai tersangka, juga sempat berdiskusi dengan sejumlah teman yang memiliki akses luas di berbagai lini. Mereka orang-orang di balik layar dalam penentuan berbagai kebijakan di negeri ini. Kita bertemu secara tidak sengaja di sebuah acara. Ketika nestapa Ahok terbersit, dominan berkeyakinan Ahok akan jadi tersangka. Alasannya satu, stabilitas negara.

Persoalan Ahok memang bukan lagi sebatas persoalan ideologi. Kita yakini ada yang murni berjuang demi agama, tapi sepertinya tak sedikit juga berjuang demi tujuan yang lain. Sudah ada pihak-pihak yang ingin meraup keuntungan dari situasi ini, menginginkan situasi ibukota semakin berantakan. Bisa jadi ada tangan asing yang bermain, bisa pula tangan koruptor. Panglima sudah jelaskan hal itu.

Situasi ini mengingatkan kita pada petuah-petuah yang pernah disampaikan Bung Karno. Perjuangan kita akan jauh lebih berat, sebab yang kita hadapi adalah bangsa sendiri, bukan lagi penjajah bangsa asing yang jelas-jelas berbeda warna kulitnya bahkan bola matanya.

Bung Karno mungkin mau ‘curhat’ bahwa menghadapi bangsa sendiri itu dilematis. Kalau tegas bakal dibilang otoriter, kalau dibiarkan malah semakin menjadi-jadi. Itulah situasi yang dialaminya pada akhir masa pemerintahannya. Dia dihadapkan pada perang dengan bangsa sendiri. Pilihan terbaik di antara yang terburuk pada saat itu dipilihnya, yaitu tidak lagi mempertahankan jabatannya.

Situasi di negeri ini memang sedang mendung. Ujaran kebencian mengalir deras lewat media sosial. Pembunuhan karakter terhadap yang berbeda pandangan semakin menjadi-jadi. Bila tak sependapat dianggap jadi musuh. Belum lagi aksi terorisme yang semakin tersulut. Ada gereja dan vihara yang dibom, ada anak kecil yang luka bakar, ada balita bernama Intan yang akhirnya dipanggil oleh Tuhan.

Saya akhirnya sangat apresiasi dengan sikap Polri, yang pada hari ini, rabu enam belas november dua ribu enam belas, resmi menetapkan Ahok sebagai tersangka. Setidaknya, sikap Polri ini membuat suasana jadi lebih tenang, walau belum tentu tenang, sebab terlalu banyak kepentingan di negeri ini. (Jambi, 16 November 2016)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik