Ketika Idealisme Mahasiswa Tergadai
AKHIR-akhir ini sebagian gerakan mahasiswa secara nyata-nyata menunjukkan ketidaknetralannya. Gerakan mahasiswa, utamanya yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), lebih condong untuk mendukung kepentingan partai politik (parpol) tertentu.
Ini bisa dilihat dari aksi sejumlah gerakan mahasiswa yang menolak kehadiran Joko Widodo di kampus ITB. Ada pula gerakan yang menolak Jokowi -panggilan Joko Widodo- menjadi calon presiden dengan alasan ia harus menuntaskan tugasnya memimpin DKI Jakarta hingga akhir periode. Di sisi lain, massa dari gerakan ini mengundang sesosok tokoh yang digadang-gadang jadi capres/cawapres ke kampus mengisi acara.
Gerakan mahasiswa pada dasarnya adalah gerakan yang murni untuk mengangkat derajat bangsa, membawa dan memperjuangkan aspirasi masyarakat, dan mengingatkan pemimpin yang alpa. Gerakan mahasiswa ialah gerakan yang mengedepankan idealisme dan mengedepankan kepentingan umum.
Namun fenomena gerakan mahasiswa di atas, telah menunjukkan penyimpangan dari gerakan mahasiswa yang sebenarnya. Justru, gerakan mahasiswa telah menunjukkan kecenderungannya dalam mendukung dan memperjuangkan agenda partai politik tertentu. Gerakan tidak murni lagi memperjuangkan kepentingan rakyat.
Gerakan mahasiswa seperti ini telah mencoreng perjuangan mahasiswa. Kecenderungannya, gerakan mahasiswa bukan lagi gerakan yang murni dari nurani mahasiswa, melainkan ditunggangi oleh kepentingan partai politik tertentu. Padahal, mahasiswa harusnya bertugas mengingatkan dan mengoreksi pemimpin parpol, bukan malah jadi kaki tangan parpol.
Sudah saatnya mahasiswa Indonesia melakukan instropeksi diri. Jangan sampai Badan Eksekutif Mahasiswa menjadi perpanjangan tangan partai politik di dunia kampus, dunia yang harusnya bersih dari aktivitas politik praktis. Bila BEM menjadi anjing pelacak parpol, ada baiknya keberadaan BEM ditinjau ulang. (*)
Ini bisa dilihat dari aksi sejumlah gerakan mahasiswa yang menolak kehadiran Joko Widodo di kampus ITB. Ada pula gerakan yang menolak Jokowi -panggilan Joko Widodo- menjadi calon presiden dengan alasan ia harus menuntaskan tugasnya memimpin DKI Jakarta hingga akhir periode. Di sisi lain, massa dari gerakan ini mengundang sesosok tokoh yang digadang-gadang jadi capres/cawapres ke kampus mengisi acara.
Gerakan mahasiswa pada dasarnya adalah gerakan yang murni untuk mengangkat derajat bangsa, membawa dan memperjuangkan aspirasi masyarakat, dan mengingatkan pemimpin yang alpa. Gerakan mahasiswa ialah gerakan yang mengedepankan idealisme dan mengedepankan kepentingan umum.
Namun fenomena gerakan mahasiswa di atas, telah menunjukkan penyimpangan dari gerakan mahasiswa yang sebenarnya. Justru, gerakan mahasiswa telah menunjukkan kecenderungannya dalam mendukung dan memperjuangkan agenda partai politik tertentu. Gerakan tidak murni lagi memperjuangkan kepentingan rakyat.
Gerakan mahasiswa seperti ini telah mencoreng perjuangan mahasiswa. Kecenderungannya, gerakan mahasiswa bukan lagi gerakan yang murni dari nurani mahasiswa, melainkan ditunggangi oleh kepentingan partai politik tertentu. Padahal, mahasiswa harusnya bertugas mengingatkan dan mengoreksi pemimpin parpol, bukan malah jadi kaki tangan parpol.
Sudah saatnya mahasiswa Indonesia melakukan instropeksi diri. Jangan sampai Badan Eksekutif Mahasiswa menjadi perpanjangan tangan partai politik di dunia kampus, dunia yang harusnya bersih dari aktivitas politik praktis. Bila BEM menjadi anjing pelacak parpol, ada baiknya keberadaan BEM ditinjau ulang. (*)
Komentar
Posting Komentar