Semakin Diserang, Jokowi Kian Kuat
MENJELANG pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, Joko Widodo, yang kini menjabat sebagai Gubernur Jakarta, semakin banyak mendapatkan serangan. Namun semakin diserang, pria yang akrab dipanggil Jokowi itu justru terlihat semakin mendapatkan dukungan dan simpatik dari masyarakat.
Serangan terhadap Jokowi sudah sangat kentara saat maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta, berpasangan dengan Basuki alias Ahok. Pasangan ini diterjang sejumlah isu negatif. Isu agama tidak lepas dari pasangan ini. Bahkan Rhoma Irama pun turut menyampaikan serangan berdalih isu agama.
Hasilnya? Joko Widodo akhirnya keluar sebagai pemenang. Ia menduduki kursi DKI 1. Serangan belum juga redup setelah kursi itu diduduki. Isu agama, yang selama ini sangat mudah disulut di negeri yang katanya 'pancasilais' ini, kembali dikobarkan.
Bisa dilihat dari penolakan kebijakan Jokowi-Ahok yang mengangkat sejumlah pegawai non muslim sebagai lurah dan camat. Paling santer disorot adalah pengangkatanLurah Susan. Warga di wilayah Susan memimpin diprovokasi 'orang berkepentingan' agar menolak, dengan alasan keyakinan (agama) yang berbeda.
Toh, walau diserang habis-habisan, termasuk dengan isu agama, Jokowi tetap menjadi idola. Kepercayaan masyarakat terhadapnya tetap tinggi. Setidaknya ini terlihat dari survey berbagai lembaga. Saat ini, setidaknya baru survey bisa jadi barometer tunggal dalam melihat elektabilitas seorang pemimpin atau calon pemimpin.
Serangan terbaru digencarkan oleh Partai Keadilan Sejahtera. Wakil Sekretaris Jenderal PKS, Mahfudz Siddiq menilai, banjir yang melanda Ibu Kota dalam dua pekan terakhir akan memperkecil peluang Joko Widodo untuk menjadi calon presiden, Selasa (4/2/2014).
"Saya khawatir banjir berkepanjangan ini semakin memperkecil peluang Jokowi menjadi capres. Saya berdoa agar hujan jangan lama-lama," ujar Mahfudz. Kira-kira apa hubungannya ya? Toh banjir bukan kali ini saja terjadi di Jakarta. Ini sudah jadi warisan belasan bahkan mungkin puluhan tahun. Jokowi kah penyebab banjir?
Mahfudz berdalih, pernyataan yang disampaikannya bukan untuk menaikkan elektabilitas tiga bakal capres PKS yang baru ditetapkan, yakni Anis Matta, Hidayat Nur Wahid, dan Ahmad Heryawan. Namun apapun alasan yang disampaikannya, jelas sebuah serangan untuk Joko Widodo.
Sadarkah PKS melihat realita saat ini? Justru orang-orang yang menyerang Joko Widodo menjadi semacam dianggap 'musuh' oleh masyarakat. Akibatnya? Masyarakat melakukan penolakan terhadap 'penyerang' Joko Widodo.
Bila PKS masih ingin mendapat suara di pemilihan nanti, sudah sewajarnya melihat bagaimana realitas saat ini. Sebaiknya harus paham kapan harus bertahan dan kapan harus menyerang. Ini memang ilmu sepak bola, tapi berlaku juga di dunia politik.
Serangan terhadap Jokowi sudah sangat kentara saat maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta, berpasangan dengan Basuki alias Ahok. Pasangan ini diterjang sejumlah isu negatif. Isu agama tidak lepas dari pasangan ini. Bahkan Rhoma Irama pun turut menyampaikan serangan berdalih isu agama.
Hasilnya? Joko Widodo akhirnya keluar sebagai pemenang. Ia menduduki kursi DKI 1. Serangan belum juga redup setelah kursi itu diduduki. Isu agama, yang selama ini sangat mudah disulut di negeri yang katanya 'pancasilais' ini, kembali dikobarkan.
Bisa dilihat dari penolakan kebijakan Jokowi-Ahok yang mengangkat sejumlah pegawai non muslim sebagai lurah dan camat. Paling santer disorot adalah pengangkatanLurah Susan. Warga di wilayah Susan memimpin diprovokasi 'orang berkepentingan' agar menolak, dengan alasan keyakinan (agama) yang berbeda.
Toh, walau diserang habis-habisan, termasuk dengan isu agama, Jokowi tetap menjadi idola. Kepercayaan masyarakat terhadapnya tetap tinggi. Setidaknya ini terlihat dari survey berbagai lembaga. Saat ini, setidaknya baru survey bisa jadi barometer tunggal dalam melihat elektabilitas seorang pemimpin atau calon pemimpin.
Serangan terbaru digencarkan oleh Partai Keadilan Sejahtera. Wakil Sekretaris Jenderal PKS, Mahfudz Siddiq menilai, banjir yang melanda Ibu Kota dalam dua pekan terakhir akan memperkecil peluang Joko Widodo untuk menjadi calon presiden, Selasa (4/2/2014).
"Saya khawatir banjir berkepanjangan ini semakin memperkecil peluang Jokowi menjadi capres. Saya berdoa agar hujan jangan lama-lama," ujar Mahfudz. Kira-kira apa hubungannya ya? Toh banjir bukan kali ini saja terjadi di Jakarta. Ini sudah jadi warisan belasan bahkan mungkin puluhan tahun. Jokowi kah penyebab banjir?
Mahfudz berdalih, pernyataan yang disampaikannya bukan untuk menaikkan elektabilitas tiga bakal capres PKS yang baru ditetapkan, yakni Anis Matta, Hidayat Nur Wahid, dan Ahmad Heryawan. Namun apapun alasan yang disampaikannya, jelas sebuah serangan untuk Joko Widodo.
Sadarkah PKS melihat realita saat ini? Justru orang-orang yang menyerang Joko Widodo menjadi semacam dianggap 'musuh' oleh masyarakat. Akibatnya? Masyarakat melakukan penolakan terhadap 'penyerang' Joko Widodo.
Bila PKS masih ingin mendapat suara di pemilihan nanti, sudah sewajarnya melihat bagaimana realitas saat ini. Sebaiknya harus paham kapan harus bertahan dan kapan harus menyerang. Ini memang ilmu sepak bola, tapi berlaku juga di dunia politik.

Komentar
Posting Komentar