Petinggi Partai (Masih) Bermental Pengemis
MUAK. Itulah yang bisa diungkapkan melihat sebagian besar petinggi partai politik begitu mengharapkan kucuran dari saksi lewat APBN. Mereka begitu mengharapkan dana ratusan miliar rupiah untuk membiayai honor saksi di tempat pemungutan suara. Haruskah saksi dibiayai uang rakyat yang terkumpul di APBN?
Hanya dua parpol yang dengan tegas menolak kucuran dana dari APBN untuk membiayai saksi partai politik. Tentu patut diacungi jempol untuk partai yang menolak ini, terlepas sedang memainkan intrik atau karena keteguhannya pada idealisme berpolitik.
Memang, tidak sepantasnya uang rakyat digunakan untuk membiayai aktivitas partai politik, apalagi untuk dana saksi parpol. Bukankah parpol sudah memiliki kader di setiap daerah sehingga akhirnya lolos sebagai peserta pemilu 2014? Artinya, parpol bisa menggunakan kadernya untuk saksi. Jadi tidak perlu dana toh?
Bila kader partai tidak mau menjadi saksi tanpa bayaran, ini artinya partai itu sudah sewajarnya melakukan intropeksi diri. Ini artinya partai itu gagal melakukan kaderisasi maupun pendidikan politik. Ini artinya juga bahwa partai itu lebih baik membubarkan diri, daripada akhirnya jadi benalu di tengah masyarakat.
Namun lebih dari itu semua, tontonan menarik berupa desakan petinggi sejumlah parpol, yang juga menjadi petinggi di negara ini, pantas untuk dikritisi. Atraksi mereka yang mendesak pemerintah memberikan dana hingga ratusan miliar untuk mendanai saksi partai, merupakan bentuk kerakusan partai atas hak rakyat.
Mereka secara gampangnya menunjukkan bahwa partai yang dipimpinnya tidak memiliki kemampuan dana untuk membiayai saksi di TPS. Kalau demikian adanya, lebih baik tidak usah ikut pemilu. Tentu rakyat akan berada pada posisi yang mengkhawatirkan bila negara dipimpin oleh petinggi partai yang ingin menguras uang rakyat ini. Kepentingan partai politik sudah dibuat diatas segala-galanya.
Harus disadari, atraksi sejumlah partai politik itu telah menelanjangi mereka sendiri. Mereka menunjukkan bahwa mereka merupakan orang-orang yang masih bermental pengemis. Ya, mereka pengemis berdasi. Mereka ingin mengemis secara legal. Sudah siapkah warga negara ini dipimpin oleh para pengemis?
#Salam Satu Indonesia!!!
Hanya dua parpol yang dengan tegas menolak kucuran dana dari APBN untuk membiayai saksi partai politik. Tentu patut diacungi jempol untuk partai yang menolak ini, terlepas sedang memainkan intrik atau karena keteguhannya pada idealisme berpolitik.
Memang, tidak sepantasnya uang rakyat digunakan untuk membiayai aktivitas partai politik, apalagi untuk dana saksi parpol. Bukankah parpol sudah memiliki kader di setiap daerah sehingga akhirnya lolos sebagai peserta pemilu 2014? Artinya, parpol bisa menggunakan kadernya untuk saksi. Jadi tidak perlu dana toh?
Bila kader partai tidak mau menjadi saksi tanpa bayaran, ini artinya partai itu sudah sewajarnya melakukan intropeksi diri. Ini artinya partai itu gagal melakukan kaderisasi maupun pendidikan politik. Ini artinya juga bahwa partai itu lebih baik membubarkan diri, daripada akhirnya jadi benalu di tengah masyarakat.
Namun lebih dari itu semua, tontonan menarik berupa desakan petinggi sejumlah parpol, yang juga menjadi petinggi di negara ini, pantas untuk dikritisi. Atraksi mereka yang mendesak pemerintah memberikan dana hingga ratusan miliar untuk mendanai saksi partai, merupakan bentuk kerakusan partai atas hak rakyat.
Mereka secara gampangnya menunjukkan bahwa partai yang dipimpinnya tidak memiliki kemampuan dana untuk membiayai saksi di TPS. Kalau demikian adanya, lebih baik tidak usah ikut pemilu. Tentu rakyat akan berada pada posisi yang mengkhawatirkan bila negara dipimpin oleh petinggi partai yang ingin menguras uang rakyat ini. Kepentingan partai politik sudah dibuat diatas segala-galanya.
Harus disadari, atraksi sejumlah partai politik itu telah menelanjangi mereka sendiri. Mereka menunjukkan bahwa mereka merupakan orang-orang yang masih bermental pengemis. Ya, mereka pengemis berdasi. Mereka ingin mengemis secara legal. Sudah siapkah warga negara ini dipimpin oleh para pengemis?
#Salam Satu Indonesia!!!

Komentar
Posting Komentar