Ketika Prostitusi Sudah di Ujung Jari
| ilustrasi |
Bisnis prostitusi di dunia maya belakangan ini kian marak di Jambi. Pebisnis menggunakan jalur facebook dan twitter. Sejumlah group dan fanspage facebook bertebaran, termasuk yang menawarkan perempuan di Kota Jambi. Di antara group itu ada yang sifatnya terbuka untuk publik dan ada juga yang tertutup.
Penelusuran Tribun, setidaknya ada empat group dan fanspage facebook yang menawarkan jasa itu. Facebooker tinggal menyampaikan kriteria `pelayan' yang dibutuhkannya, admin akan mengirimkan beberapa gambar untuk dipilih.
Transaksi tidak rumit. Pelanggan tinggal menyampaikan hotel yang akan jadi lokasi transaksi, dan perempuan yang dipesannya akan dikirimkan ke hotel tersebut. Namun ada juga yang meminta uang muka terlebih dahulu, antara 10-50 persen dari kesepakatan harga, setelah itu pesanan diantar.
Para operator bisnis haram ini tidak jelas orangnya, sebab tidak mau bertemu langsung dengan calon pelanggannya. "Transaksi hanya kita layani secara online. Kirimkan kriteria anda, kita kirimkan foto," kata seorang admin group facebook saat diminta untuk bertemu demi kepastian transaksi.
Setelah disampaikan kriteria `perempuan pesanan' kepadanya, tak lama kemudian dia mengirimkan gambar beberapa perempuan. Bersama foto dituliskannya tinggi dan berat badan perempuan itu dan juga umurnya. Namun foto tersebut tidak full, ada bagian wajah yang sengaja ditutupinya.
Hal yang sama juga Tribun temui saat menelusuri ke group lainnya. Tinggal menyebut kriteria dari perempuan yang diminta, foto akan dikirimkan lewat pesan facebook. Bila di antara foto tersebut tidak ada yang disukai, admin akan meminta untuk bersabar beberapa waktu untuk cari yang lain.
Satu di antara yang ditawarkan berinisial N, yang masih berusia 20 tahun. Perempuan itu berkulit sawo matang berambut lurus. Foto yang dikirimkan admin itu cukup seksi. Satu di antara posenya, perempuan itu sedang berbaring dengan sehelai kain menutup dada hingga setengah paha.
Ketika ditanya harga untuk long time, admin menyebut angka Rp 2 juta. Setelah negosiasi, admin akhirnya menyetujui angka Rp 1,8 juta. Pembayaran dilakukan di hotel yang dituju. Harga tersebut belum termasuk biaya hotel. "Itu baru untuk layanan saja ya, hotel ente yang tanggung," katanya.
Ketika mencoba menawar untuk short time, admin itu awalnya mengatakan tidak bisa. Tapi setelah dibujuk dengan berbagai alasan, akhirnya setelah beberapa lama menyetujuinya. Dia mematok tarif Rp 600 ribu, tidak bisa dinego lagi. "Itu sudah fix ya bos. Hotel situ yang tanggung," ungkapnya.
Hotel akhirnya disepakati di Jalan Pattimura, Kota Jambi. Pada waktu yang disepakati, pesanan benar-benar diutus, setelah sebelumnya mentransfer Rp 100 ribu untuk biaya taksi orderan. Cewek yang dipesan telat 15 menit. Dia langsung menuju kamar yang sebelumnya disampaikan ke admin.
Ia menyapa dengan lembut saat dipersilakan masuk setelah sebelumnya mengetok pintu. "Maaf ya telat dikit," ucapnya sembari menjulurkan tangannya. Ia mengucapkan namanya yang hanya satu kata, berawal huruf N. Tak lama kemudian ia mengelurkan rokok putih dari dalam tas kecilnya. (*)
Komentar
Posting Komentar