Rangkul Tuo Tengganai Selamatkan Candi Muarojambi
Candi Muaro Jambi turut diperbincangkan para ahli dalam International Conference on Jambi Studies (ICJS), yang diadakan di Novita Hotel. Eriansyah adalah satu diantara pembicara yang membahasnya. Ia mempresentasikan sebuah upaya dalam pelestarian candi tersebut.
SITUS Percandian Muaro Jambi, yang diyakini komplek percandian terbesar di Asia Tenggara, membutuhkan sentuhan baru dalam pelestariannya. Saat ini keberadaannya terancam sejumlah aktivitas yang bisa merusaknya, baik aktivitas perseorangan, komunal, maupun perusahaan.
Satu diantara ancaman itu adalah penambangan emas dan koral di sungai Batanghari. Aktivitas penambangan menggunakan perahu apung bermesin (don feng) yang terlihat di sepanjang DAS Batanghari telah beropreasi kompleks percandian Muara Jambi.
"Hal ini tentunya sangat berisiko terhadap kelestarian Komplek Percandian Muara Jambi," kata Eriansyah, pembicara dalam ICJS, di Novita Hotel, Jumat (22/11).
Akademisi dari Universitas Andalas tersebut mengatakan, satu diantara alasan maraknya pertambangan emas adalah banyaknya temuan benda cagar budaya warga. Sekitar tahun 2008 warga Muaro Jambi menemukan benda peninggalan sejarah berupa mata uang yang terbuat dari emas sebanyak 18 keping, yang sekarang disimpan di kantor BP3 Jambi.
Ia bilang tantangannya juga terletak pada warga setempat atau lokal. Tantangan tersebut adalah upaya dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya melestarikan Komplek Percandian. Proses penyadaran itu, ucapnya, membuthkan waktu yang sangat panjang.
Untuk menciptakan kesadaran itu, hal yang paling mungkin dilakukan adalah dengan mengajak tuo tengganai setempat. Menurutnya, peran tuo tengganai di Muara Jambi memiliki peran penting memberi pemahaman dan kesaradan kepada masyarakat.
Tokoh masyarakat atau lebih dikenal dengan istilah tuo tengganai, dianggapnya pihak yang mampu mempengaruhi persepsi masyarakat. Persepsi masyarakat harus dibangun supaya semua memiliki kesamaan visi untuk bersama menjaga dan merawat situs sejrah itu.
"Dalam kehidupan masyarakat Jambi pada umumnya, tuo tengganai merupakan orang yang dituakan dan dianggap sebagai pemimpin dalam suatu kelompok masyarakat. Sikap maupun pendapatnya cenderung dianggap benar oleh masyarakat," terangnya.
Tuo tengganai sebagai opinion leader mempunyai kapasitas mempengaruhi secara informal pada anggota masyarakatnya. Opinion leader mempunyai pengaruh terhadap penyebaran inovasi. Mereka bisa mempercepat anggota masyarakat menerima inovasi.
"Tuo tengganai diharapkan bisa memberikan pengaruhnya pada masyarakat desa dalam upaya melestarikan komplek candi Muaro Jambi sebagai warisan budaya dan sejarah leluhur mereka sendiri," tuturnya.
Tentang pentingnya upaya pelestarian peninggalan sejarah, termasuk Candi Muaro Jambi, juga turut dibahas pada season yang sama, yang disajikan Edwards McKinnon, akademisi National University of Singapore.
Pada kesimpulannya, Edwards mengatakan, banyak pekerjaan yang diperlukan mengungkapkan Jambi yang sangat menarik pada masa lalu. Pekerjaan itu memungkinkan para arkeolog dan
sejarawan seni mengumpulkan petunjuk pemerintahan abad pertengahan hingga millenium.
Satu diantara yang harus diungkap itu adalah Candi Muaro Jambi. "Ini adalah usaha besar yang bisa membuat Jambi menjadi pusat pariwisata ke depan. Diperlukan peran pemerintah daerah dan pusat untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga non-pemerintah untuk memfasilitasi
pekerjaan tersebut," terangnya. (TRIBUNJAMBI/SUANGSITANGGANG)
SITUS Percandian Muaro Jambi, yang diyakini komplek percandian terbesar di Asia Tenggara, membutuhkan sentuhan baru dalam pelestariannya. Saat ini keberadaannya terancam sejumlah aktivitas yang bisa merusaknya, baik aktivitas perseorangan, komunal, maupun perusahaan.
Satu diantara ancaman itu adalah penambangan emas dan koral di sungai Batanghari. Aktivitas penambangan menggunakan perahu apung bermesin (don feng) yang terlihat di sepanjang DAS Batanghari telah beropreasi kompleks percandian Muara Jambi.
"Hal ini tentunya sangat berisiko terhadap kelestarian Komplek Percandian Muara Jambi," kata Eriansyah, pembicara dalam ICJS, di Novita Hotel, Jumat (22/11).
Akademisi dari Universitas Andalas tersebut mengatakan, satu diantara alasan maraknya pertambangan emas adalah banyaknya temuan benda cagar budaya warga. Sekitar tahun 2008 warga Muaro Jambi menemukan benda peninggalan sejarah berupa mata uang yang terbuat dari emas sebanyak 18 keping, yang sekarang disimpan di kantor BP3 Jambi.
Ia bilang tantangannya juga terletak pada warga setempat atau lokal. Tantangan tersebut adalah upaya dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya melestarikan Komplek Percandian. Proses penyadaran itu, ucapnya, membuthkan waktu yang sangat panjang.
Untuk menciptakan kesadaran itu, hal yang paling mungkin dilakukan adalah dengan mengajak tuo tengganai setempat. Menurutnya, peran tuo tengganai di Muara Jambi memiliki peran penting memberi pemahaman dan kesaradan kepada masyarakat.
Tokoh masyarakat atau lebih dikenal dengan istilah tuo tengganai, dianggapnya pihak yang mampu mempengaruhi persepsi masyarakat. Persepsi masyarakat harus dibangun supaya semua memiliki kesamaan visi untuk bersama menjaga dan merawat situs sejrah itu.
"Dalam kehidupan masyarakat Jambi pada umumnya, tuo tengganai merupakan orang yang dituakan dan dianggap sebagai pemimpin dalam suatu kelompok masyarakat. Sikap maupun pendapatnya cenderung dianggap benar oleh masyarakat," terangnya.
Tuo tengganai sebagai opinion leader mempunyai kapasitas mempengaruhi secara informal pada anggota masyarakatnya. Opinion leader mempunyai pengaruh terhadap penyebaran inovasi. Mereka bisa mempercepat anggota masyarakat menerima inovasi.
"Tuo tengganai diharapkan bisa memberikan pengaruhnya pada masyarakat desa dalam upaya melestarikan komplek candi Muaro Jambi sebagai warisan budaya dan sejarah leluhur mereka sendiri," tuturnya.
Tentang pentingnya upaya pelestarian peninggalan sejarah, termasuk Candi Muaro Jambi, juga turut dibahas pada season yang sama, yang disajikan Edwards McKinnon, akademisi National University of Singapore.
Pada kesimpulannya, Edwards mengatakan, banyak pekerjaan yang diperlukan mengungkapkan Jambi yang sangat menarik pada masa lalu. Pekerjaan itu memungkinkan para arkeolog dan
sejarawan seni mengumpulkan petunjuk pemerintahan abad pertengahan hingga millenium.
Satu diantara yang harus diungkap itu adalah Candi Muaro Jambi. "Ini adalah usaha besar yang bisa membuat Jambi menjadi pusat pariwisata ke depan. Diperlukan peran pemerintah daerah dan pusat untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga non-pemerintah untuk memfasilitasi
pekerjaan tersebut," terangnya. (TRIBUNJAMBI/SUANGSITANGGANG)
Komentar
Posting Komentar