Mendadak Peduli Nasib Bocah Luka Bakar
NURUL Huda, bocah 8 tahun asal Desa Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, yang mengalami luka bakar awal November 2013, akhirnya menghembuskan nafas terakhir setelah hampir satu minggu menahan sakit, Sabtu (10/11/2013).
Namun sebelum meninggal di RS Raden Mattaher Jambi, sejumlah politisi yang menduduki jabatan strategis menjenguknya di rumah sakit.
Mereka yang mengunjungi antara lain Ketua DPD Partai Demokrat Jambi yang saat ini menjabat Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus. Ada pula politisi Partai Golkar yang baru saja dilantik menjadi Wali Kota Jambi, Syarif Fasha.
Tak mau ketinggalan, politisi Partai Amanat Nasional, yang juga Bupati Tanjung Jabung Timur, Zumi Zola, juga turut datang menjenguknya. Para politisi itu bilang turut prihatin, dan memberi bantuan kepada Nurul Huda.
Kelihatan sungguh mulia sikap yang ditunjukkan politisi ini. Namun mengingat kini tahun politik, menjadi muncul 'kecurigaan' bahwa yang mereka lakukan bukan karena dorongan hati. Muncul kesan sesungguhnya sedang ada praktik politik pencitraan.
Memang sangat tepat bila melakukan pencitraan dari sakit yang diderita bocah ini. Betapa tidak, penderitaan bocah ini menjadi perhatian publik terutama media massa di Kota Jambi. Ada porsi pemberitaan yang cukup lumayan atas derita Nurul Huda ini.
Menjadi 'kesempatan emas' bagi politisi yang datang menjenguk Nurul Huda. Mereka kecipratan kesan 'berhati mulia' saat masyarakat membaca berita bahwa mereka turut berempati atas bencana yang dialami Nurul Huda.
Adanya hipotesa 'pencitraan lewat penderitaan' ini baru sebatas asumsi, namun tentu juga hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Itu merujuk pada penderitaan yang dialami oleh bocah-bocah lain yang justru jauh dari perhatian para politisi.
Sudah selayaknya, anak malang seperti Nurul Huda tak dijadikan 'arena pencitraan' oleh orang-orang pintar. Sudah saatnya pula media massa tidak turut memberitakan politisi yang sedang mencitrakan dirinya sebagai sosok yang baik. Media harus cerdas.
Bila politisi ingin benar-benar mencitrakan dirinya sebagai sosok yang baik, yang harusnya dilakukan justru membantu orang-orang yang selama ini masih jauh dari pemberitaan media massa dan luput dari perhatian masyarakat luas. Bukan yang justru sedang menjadi hot topic di media massa.
Sebut saja yang bisa dilakukan seperti mengumpulkan gelandangan dan memberikan skill kepada mereka. Bukan sebatas mengunjungi gelandangan tanpa sebuah solusi. Tidak pula sekedar datang ke pasar dan tanya-tanya ke pedagang tanpa solusi atas persoalan yang dikeluhkan pedagang tradisional.
Masyarakat harus jeli ditengah hiruk pikuk politik saat ini. Jangan sampai nanti terjerumus oleh praktik politik pencitraan, hingga akhirnya memiliki sosok yang seolah-olah baik padahal tidak seperti yang dicitrakan tersebut. (*)
Namun sebelum meninggal di RS Raden Mattaher Jambi, sejumlah politisi yang menduduki jabatan strategis menjenguknya di rumah sakit.
Mereka yang mengunjungi antara lain Ketua DPD Partai Demokrat Jambi yang saat ini menjabat Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus. Ada pula politisi Partai Golkar yang baru saja dilantik menjadi Wali Kota Jambi, Syarif Fasha.
Tak mau ketinggalan, politisi Partai Amanat Nasional, yang juga Bupati Tanjung Jabung Timur, Zumi Zola, juga turut datang menjenguknya. Para politisi itu bilang turut prihatin, dan memberi bantuan kepada Nurul Huda.
Kelihatan sungguh mulia sikap yang ditunjukkan politisi ini. Namun mengingat kini tahun politik, menjadi muncul 'kecurigaan' bahwa yang mereka lakukan bukan karena dorongan hati. Muncul kesan sesungguhnya sedang ada praktik politik pencitraan.
Memang sangat tepat bila melakukan pencitraan dari sakit yang diderita bocah ini. Betapa tidak, penderitaan bocah ini menjadi perhatian publik terutama media massa di Kota Jambi. Ada porsi pemberitaan yang cukup lumayan atas derita Nurul Huda ini.
Menjadi 'kesempatan emas' bagi politisi yang datang menjenguk Nurul Huda. Mereka kecipratan kesan 'berhati mulia' saat masyarakat membaca berita bahwa mereka turut berempati atas bencana yang dialami Nurul Huda.
Adanya hipotesa 'pencitraan lewat penderitaan' ini baru sebatas asumsi, namun tentu juga hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Itu merujuk pada penderitaan yang dialami oleh bocah-bocah lain yang justru jauh dari perhatian para politisi.
Sudah selayaknya, anak malang seperti Nurul Huda tak dijadikan 'arena pencitraan' oleh orang-orang pintar. Sudah saatnya pula media massa tidak turut memberitakan politisi yang sedang mencitrakan dirinya sebagai sosok yang baik. Media harus cerdas.
Bila politisi ingin benar-benar mencitrakan dirinya sebagai sosok yang baik, yang harusnya dilakukan justru membantu orang-orang yang selama ini masih jauh dari pemberitaan media massa dan luput dari perhatian masyarakat luas. Bukan yang justru sedang menjadi hot topic di media massa.
Sebut saja yang bisa dilakukan seperti mengumpulkan gelandangan dan memberikan skill kepada mereka. Bukan sebatas mengunjungi gelandangan tanpa sebuah solusi. Tidak pula sekedar datang ke pasar dan tanya-tanya ke pedagang tanpa solusi atas persoalan yang dikeluhkan pedagang tradisional.
Masyarakat harus jeli ditengah hiruk pikuk politik saat ini. Jangan sampai nanti terjerumus oleh praktik politik pencitraan, hingga akhirnya memiliki sosok yang seolah-olah baik padahal tidak seperti yang dicitrakan tersebut. (*)
Komentar
Posting Komentar