Lahirnya Joko Widodo Palsu di Kota Jambi
JOKO Widodo, yang kini menduduki kursi Gubernur Jakarta, menjadi sosok pemimpin yang diidam-idamkan. Setidaknya itu terlihat dari hasil survei sejumlah lembaga survei tanah air, yang menempatkan pria kurus itu di posisi teratas, membawahi perolehan politisi yang sudah lama nangkring di jagad politik Indonesia.
Fenomena ini menjadi perhatian tersendiri bagi politisi lain, termasuk politisi di daerah, tak terkecuali di Kota Jambi. Mereka ingin seperti Joko Widodo, seseorang yang diidam-idamkan masyarakat, seseorang yang ingin kehadirannya selalu dinantikan. Politisi ingin terlihat sebagai sosok yang merakyat bak Jokowi.
Namun konsekuensinya adalah mereka tidak lagi menjadi diri sendiri. Mereka ingin menjiplak Jokowi 100 persen, mulai dari kendaraan dinas yang murah, pakaian yang sederhana, blusukan, dan sebagainya. Padahal blusukan dan kesederhanaan itu jauh dari gaya hidupnya yang sebenarnya elitis, suka ngatur, dan suka mewah.
Upaya meniru Joko Widodo ini menjadi tren di Kota Jambi. Entah masyarakat tahu atau tidak bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah parodi murahan. Entah mereka tahu latar belakang orang itu atau tidak. Namun yang pasti, upaya menjiplak itu terlihat ada hasilnya, atau sudah ada yang merasakan hasilnya.
Walau begitu, yang namanya sesuatu yang 'di cat' hasilnya tidak akan permanen. Bagaikan seekor kerbau yang di cat warna merah. Sebagus apa pun cat itu, suatu saat akan luntur, sehingga akan terlihat kembali dengan jelas bahwa kerbau itu sebenarnya kulitnya berwarna hitam.
Menjadi politisi sebenarnya cukup dengan menjadi diri sendiri. Hanya perlu sedikit modifikasi, yakni memberi hati untuk rakyat. Ya, hanya satu, memberi hati untuk rakyat. Gak perlu harus pakai pakaian yang sederhana, mobil murah, dan yang lainnya. (*)
Fenomena ini menjadi perhatian tersendiri bagi politisi lain, termasuk politisi di daerah, tak terkecuali di Kota Jambi. Mereka ingin seperti Joko Widodo, seseorang yang diidam-idamkan masyarakat, seseorang yang ingin kehadirannya selalu dinantikan. Politisi ingin terlihat sebagai sosok yang merakyat bak Jokowi.
Namun konsekuensinya adalah mereka tidak lagi menjadi diri sendiri. Mereka ingin menjiplak Jokowi 100 persen, mulai dari kendaraan dinas yang murah, pakaian yang sederhana, blusukan, dan sebagainya. Padahal blusukan dan kesederhanaan itu jauh dari gaya hidupnya yang sebenarnya elitis, suka ngatur, dan suka mewah.
Upaya meniru Joko Widodo ini menjadi tren di Kota Jambi. Entah masyarakat tahu atau tidak bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah parodi murahan. Entah mereka tahu latar belakang orang itu atau tidak. Namun yang pasti, upaya menjiplak itu terlihat ada hasilnya, atau sudah ada yang merasakan hasilnya.
Walau begitu, yang namanya sesuatu yang 'di cat' hasilnya tidak akan permanen. Bagaikan seekor kerbau yang di cat warna merah. Sebagus apa pun cat itu, suatu saat akan luntur, sehingga akan terlihat kembali dengan jelas bahwa kerbau itu sebenarnya kulitnya berwarna hitam.
Menjadi politisi sebenarnya cukup dengan menjadi diri sendiri. Hanya perlu sedikit modifikasi, yakni memberi hati untuk rakyat. Ya, hanya satu, memberi hati untuk rakyat. Gak perlu harus pakai pakaian yang sederhana, mobil murah, dan yang lainnya. (*)
Komentar
Posting Komentar