Es Tebu, Ical, dan Kaos Metalica

ES tebu naik daun. Inilah salah satu dampak dari 'insiden lupa bayar es tebu' oleh rombongan Ketua Umum Partai Golkar saat menapaki Kota Jambi, awal November ini. Adalah Acit, penjual es tebu yang juga turut naik daun. Namanya mendadak terkenal, dan 'divonis' sebagai orang yang terzolimi.
Ilustrasi. Penjual es tebu

Kisahnya, usai santap sore di Rumah Makan Munir, rombongan Ical, yang didalamnya juga turut beberapa caleg dari Partai Golkar, mencoba minuman es tebu yang dijual oleh pedagang kaki lima bernama Acit. Gerobak es tebu terdapat tepat di depan rumah makan. Kedatangan Ical ke rumah makan itu diserbu oleh sejumlah tukang ojek dan petugas kebersihan jalan. Mereka berharap makan gratis dari orang besar itu.

Namun, ketika makan bersama selesai, tidak ada yang membayar es tebu. Kata Acit, yang pesan es tebu sangat banyak. Dia menyebut sekitar 100 gelas, sebab di dalamnya juga termasuk puluhan tukang ojek dan penyapu jalanan juga ikut makan bareng rombongan tersebut.

Acit langsung menuju ke seorang pria yang menggunakan baju golkar. Ia menagih uang pembayaran es tebu kepada pria tersebut. Namun, pria itu justru meminta Acit pergi karena ia bukan panitia. Setelahnya, Acit langsung menuju seorang caleg DPR RI dari Partai Golkar bernama Pinto untuk menagih pembayaran. Namun, Pinto hanya mengeluarkan uang Rp 50.000 dari kantongnya.

Kontan Acit meradang dan menolak pemberian uang oleh caleg tersebut. Nilai uang itu tak sebanding dengan harga total es tebu yang diminum Ical beserta rombongan. Harga satu gelas es tebu Rp 4.000.

Bila 100 gelas, artinya yang harus dibayarkan Rp 400 ribu. Setelah lelah 'dipingpong', Acit kala itu akhirnya menyerah. Ia pulang. Baru pada malam harinya ada yang datang ke rumahnya membayar es tebu itu. Catatan, es tebu dibayar setelah marak pemberitaannya.

Mungkin saja ini insiden, tapi mungkin saja ini menjadi sebuah sifat dari orang-orang yang hadir makan di sana, terutama mereka yang berasal dari kalangan mampu, yang tidak memikirkan untuk membayar apa yang telah masuk ke dalam perutnya malam itu. Segala kemungkinan itu memang bisa saja terjadi.

Namun kemudian menjadi sangat menarik ketika Acit yang dalam pemberitaan awal merasa 'tidak nyaman' atas keadaan itu, belakangan malah menyatakan minta maaf kepada Aburizal Bakrie. Apa salah Acit? What is wrong? Kok Acit mendadak minta maaf padahal dia menagih haknya?

Setelah ditelusuri, ternyata dia diberikan 'hadiah' oleh seseorang, setelah berita 'insiden es tebu' itu marak di media termasuk di jagad dunia maya dan social networking. Satu diantara hadiah itu adalah kaos hitam yang bertuliskan Metalica. Bahkan ada petinggi Golkar Jambi yang berfoto bersamanya saat Acil mengenakan kaos hitam yang sebenarnya lebih cocok untuk anak mudah dibanding pria yang sudah berumur seperti dia.

Dengan bangganya, foto itu dipamerkan pula di twitter. Entah untuk maksud bahwa sudah berdamai, atau ada maksud lain, atau mungkin mencoba cari keuntungan? Entahlah. Biarkan saja nalar yang menjawabnya. (*)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah dan Pengusaha Berperan Besar Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Unggul

Eksotisme Budaya SAD Batin IX Saat Lamaran (Part 2)

Ditampar Harga Karet, Petani Menanti Janji Politik