Main Mata di Jembatan Timbang
![]() |
| Sopir truk terlihat menerima sesuatu dari awak angkutan barang |
JAMBI, TRIBUN-Sebuah truk warna kuning, pengangkut buah sawit, berhenti sesaat di Jembatan Timbang (Jemtim) Muara Tembesi. Kernet turun dan berlari cepat menuju ke markas petugas jembatan timbang.
Tak sampai semenit, dia sudah berada lagi di truk. Ekspresinya biasa saja. Keluar masuk kantor jembatan timbang itu memang sudah biasa dia laukan. Dia mengaku baru saja menyetorkan rupiah ke petugas di sana.
"Ngasih Rp 30 ribu, biar lancar. Kalau nggak dikasih, urusan bisa panjang," ucapnya kepada Tribun yang duduk di sampingnya.
Boy, sapaan kernet itu, mengatakan, pemberian rupiah mereka lakukan karena muatan sudah melebihi tonase. "Muatannya sudah berlebih. Kalau nggak berlebih nggak perlu kasih setoran seperti itu," ungkapnya pekan lalu.
Dia menyebut duit setoran tadi bukan dari kantong pribadinya, tapi dari bos tempatnya bekerja.
"Bos sudah kasih uang jalan. Itu untuk beli minyak, biaya makan, dan untuk setoran-setoran selama perjalanan," katanya. Praktik seperti itu katnya, bukan hanya dirinya, tapi sudah menjadi rahasia umum. Berdasarkan pengakuan Boy, pengusaha lainnya juga melakukan praktik serupa guna memperlancar usahanya.
Setoran membuat mereka bisa tenang beraktivitas, dan truk dipastikan tidak ditahan, meski muatan melebihi tonase. Seorang pengusaha sembako, yang biasa mengantar barang ke berbagai daerah di Jambi, mengakui adanya praktik setoran uang jalan itu. Dia mengaku memberikan uang jalan ke pegawainya yang membawa truk bermuatan.
Dia menyebut, uang jalan itu untuk keperluan anak buahnya selama perjalanan mengantar barang. "Itu untuk kelancaran mereka di jalan, termasuk juga untuk diberi (ke pihak-pihak tertentu) di beberapa titik," kata pengusaha. Praktik menyetor dipilihnya karena tidak ingin bisnisnya mandek.
Bila truk itu ditahan katanya, dia bakal mengalami kerugian dari sisi bisnis. "Kita cari jalan pintas saja selagi masih bisa diajak kerja sama," ucap pengusaha armada angkutan barang itu. Dia menyebut pemberian bekal uang setoran ke sopir berkedok uang jalan, sudah menjadi kebiasaan lama pengusaha daerah.
Adi, sopir truk pengangkut kelapa sawit, juga membenarkan adanya pungutan yang dia rasakan dalam perjalanan saat melintasi jembatan timbang. Alasan petugas memintai ia uang karena tonase yang dibawa melebihi muatan.
"Mobil yang saya bawa memang jumlah maksimal tonasenya 9 ton. Namun karena bos sering minta bawa sawit ini sampai lebih 10 ton, terpaksa saya ikut, karena itu sudah perintah," ungkap Adi.
Lanjut Adi, biasanya bos ditempat ia kerja selalu memberikan uang jalan sebesar Rp 200 ribu. Itu sudah termasuk uang bensin dan uang untuk membayar muatan saat melewati jembatan timbang. Namun uang itu ia rasa hanya pas-pasan, bahkan kerap kurang.
"Sering kurang mas, kadang petugas di Jembatan timbang minta melebihi dari biasanya. Kalau biasa diminta Rp 40 ribu, kadang apesnya diminta jauh lebih banyak lagi, bisa dua tiga kali lipat. Ada petugas yang baik dan ada yang suka memaksa," ucapnya.
Jembatan timbang yang kerap dilewatinya bukan hanya yang berada di Tembesi saja, tapi juga yang berada di daerah lain, termasuk di Muaro Jambi dan Sarolangun.
Ia menyebut praktik yang terjadi di semua tempat sama. Itu juga terjadi di provinsi tetangga. Rute yang dilalui Adi disesuaikan dengan proyeksi yang sudah diatur bosnya.
"Kalau rute nggak jelas, kadang disuruh ke Bahar, kadang juga ke Sengeti, dan kadang sampai ke Senawar arah ke Palembang," terangnya tentang rute truk yang dikemudikannya.
Johan, sopir truk lainnya, juga mengakui adanya pungutan uang jalan di jembatan timbang. Dia juga mengaku adanya pungutan akibat kelebihan tonase. Biasanya dia membayar Rp 60-70 ribu per trip.
Apabila mereka tidak mengikuti aturan tonase, mereka akan rugi juga, karena tidak mendapat persen dari pimpinan mereka. Jembatan timbang yang biasa dilaluinya ialah yang berada di Batanghari dan Muaro Jambi.
"Dari jembatan timbang yang pernah saya lalui, jembatan timbang sengeti yang paling petugasnya suka memaksa meminta uang," kata Johan. Kendala yang ia hadapi ditambah warga yang meminta uang di jalan rusak atau berlubang.
"Banyak kendala buat sopir seperti saya bang, kadang uang harus siap sedia. Uang diminta petugas jembatan, terus dimintai uang juga dari warga," ungkapnya.
Para sopir itu mengaku saat memberikan uang ke petugas, mereka tidak pernah diberikan kuitansi. Namun terkait temuan dan penelusuran Tribun itu, Kepala UPTD Pengawasan Angkutan Barang Dinas Perhubungan Provinsi, Ibrahim, membantah tudingan pungutan uang jalan itu.
Dia mengatakan setiap kelebihan tonase kena denda, dan petugas akan memberikan kuitansi sebagai tanda bukti. (ang/tyo/rep)
sumber: tribunjambi

Komentar
Posting Komentar